Begini Seharusnya Bernasihat

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Hasan dan Husein radhiyallahu   ‘anhuma berjalan melewati seorang lelaki tua yang sedang berwudhu, tapi tidak menyempurnakan wudhunya. Maka mereka berdua sepakat untuk menasihati orang tua tersebut dan mengajarinya tata cara berwudhu yang benar.

         
Beginilah Hasan dan Husein menasihati orang tua tersebut: Keduanya berkata, "Wahai, Paman! Coba perhatikan, siapa di antara kami yang paling sempurna wudhunya?" Kemudian keduanya berwudhu. Lelaki tua itu melihat keduanya berwudhu dengan sempurna. Akhirnya, dia pun sadar, sebenarnya dirinyalah yang tidak sempurna dalam berwudhu. Maka lelaki tua itu pun berterima kasih kepada Hasan dan Husein atas nasihat mereka berdua. Nasihat yang tidak melukai perasaannya sebagai orang yang lebih tua.

Di antara Tiang Islam Adalah Nasihat
Allah سبحانه وتعلى berfirman, artinya:

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al ‘Ashr: 1-3).
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

 الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ   

“Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya, “Kepada siapa?” Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, imam-imam kaum Muslimin dan bagi kaum Muslimin umumnya.” (HR. Muslim).
 
Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu   ‘anhu, ia berkata,

 بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ 

"Saya membaiat Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk menunaikan shalat, membayar zakat, dan bernasihat kepada seluruh kaum Muslimin." (Muttafaqun ‘alaihi).
 
Kewajiban seorang Muslim ketika melihat saudaranya salah dalam suatu masalah, atau ijtihad, atau tingkah lakunya adalah mendatanginya dan menasihatinya dengan kelemahlembutan. Jika maksudnya betul-betul ingin menasihati saudaranya. Tapi, jika yang diinginkannya hanyalah fitnah dan tuduhan kepada saudaranya, maka Allah  Mahamengetahui apa yang tersembunyi di hati.

Ali radhiyallahu  ‘anhu pernah berkata,

« الْمُؤْمِنُوْنَ نَصَحَةٌ وَالْمُنَافِقُوْنََ غَشَشَةٌ »

"Orang-orang Mukmin itu jujur (memberi nasihat) kepada saudaranya, sedangkan orang-orang munafik berlaku curang"
 
Maka jika Anda melihat ada orang yang mengkritik saudaranya dan memperbincang-kannya dalam majelis-majelis terbuka, tapi tidak berani menasihatinya di hadapannya, maka mereka itu adalah para penipu yang mengatasnamakan pembelaan terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Imam Syafi’i berkata,

 

تَغَمَّدَني بنُصْحِــكَ فــي انفـــِرادِي
وجَنِّبْنِــي النصيحــةَ فِــي الجَمَاعةْ
فـإنَّ النُّصْــحَ بَيـْن النــاسِ نــوعٌ
مــن التـَّوْبيخ لا أَرْضَى اســتِمَـاعَه
فإن خالفتني وعصيتَ أمري
                     فلا تجزع إذا لم تُعْطَ طاعة

 

"Hendaklah engkau sengaja mendatangiku untuk memberi nasehat ketika aku sendirian
Hindarilah memberikan nasehat kepadaku di tengah khalayak ramai
Karena sesungguhnya memberi nasehat di hadapan banyak orang
Sama saja dengan memburuk-burukkan, saya tidak suka mendengarnya
Jika engkau menyalahi saya dan tidak mengikuti ucapanku
Maka jangalah engkau kaget apabila nasehatmu tidak ditaati."

ETIKA BERNASIHAT
Seorang pemberi nasihat dalam menyampaikan nasihat-nasihatnya, harus memperhatikan beberapa hal, khususnya jika yang akan dinasihatinya adalah seorang ulama atau da’i. Ulama maupun da’i adalah manusia biasa, bisa salah bisa pula benar.

Dari Anas radhiyallahu   ‘anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

 
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Setiap keturunan Adam bersalah. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
 
Keyakinan kita, para sahabat radhiyallahu  ‘anhu dengan segala keutamaan dan kemuliaan mereka bukanlah orang-orang yang maksum. Maka bagaimana mungkin kita menganggap para ulama atau duat itu maksum?

Di antara adab dalam bernasihat adalah:

1. Ikhlas
Ini adalah perkara hati, berkaitan dengan motivasi Anda dalam menyampaikan nasihat kepada seseorang. Lisan bisa saja berkata, "Saya menasihati Anda ikhlas karena Allah." Namun hakekatnya, hanya Allah yang tahu, kemudian Anda sendiri.
 
Untuk mengungkap hakekat dari motivasi Anda dalam memberikan nasihat, serta untuk menjaga keikhlasan dalam hati Anda, sebelum menyampaikan nasihat, mari kita jawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

a. Apakah Anda cinta karena Allah kepada saudara Anda yang akan Anda nasihati? Jika Anda cinta kepadanya, maka ini adalah alamat yang baik. Namun jika tidak, maka lanjutkan dengan menjawab pertanyaan berikut;

b. Apakah Anda berharap, jika saja ada orang lain yang siap menyampaikan nasihat yang sama kepada orang yang akan Anda nasihati? Jika jawabannya adalah "ya", maka pertanda yang baik. Tapi, jika jawabannya justru sebaliknya, maka teruskan menjawab pertanyaan selanjutnya.

c. Apakah Anda merasa terenyuh dengan keadaan orang yang akan Anda nasihati, atau Anda justru merasa senang dan Anda menganggap ini adalah kesempatan untuk menasihatinya? Jika jawabannya adalah Anda merasa terenyuh, maka ini adalah sebuah pertanda yang baik. Namun jika jawabannya adalah "tidak", maka lanjutkan dengan menjawab soal berikut ini,

d. Apakah Anda berharap, sekiranya Anda menemukan kesempatan untuk menyampaikan nasihat itu dalam keadaan Anda hanya berdua dengannya? Jika jawabannya "ya", maka pertanda baik. Jika tidak demikian, maka lanjutkan dengan pertanyaan berikut,

e. Apakah jika hal itu dilakukan oleh orang yang paling Anda cintai, Anda pun akan menasihatinya dengan cara yang sama? Kalau jawaban Anda adalah, "Ya", maka alhamdulillah, ini adalah sebuah kebaikan. Jika tidak, maka mari kita renungkan peringatan-peringatan penting berikut ini:
  
Ikhlas adalah syarat diterimanya suatu amalan. Dari Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

 إِنَّمَا الأَعْمالُ بِالنِّيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى 

"Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah tergantung pada niat, dan sesungguhnya bagi setiap orang hanya memperoleh (sesuai) apa yang ia niatkan." (Muttafaqun ‘alaihi).

Dari Abu Umamah , Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

"Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal seseorang kecuali didasari keikhlasan dan mengharapkan wajah Allah." (HR. Abu Dawud, An-Nasai, dan selainnya dengan sanad yang baik).

Apakah kita tahu, bahwa obat dari keikhlasan adalah dengan memutuskan ketamakan terhadap dunia, dan semata-mata mengharapkan akhirat, hingga hal itu lebih mendominasi dalam hati kita?
Apakah kita tahu, sekian banyak amalan yang kecil bernilai besar di sisi Allah karena niat, dan berapa banyak amalan yang besar bernilai kecil di sisi-Nya karena niat pula?

Seorang ulama disebutkan di sisi Imam Ahmad rahimahullah sedangkan beliau dalam keadaan duduk bersandar. Maka beliau pun segera memperbaiki duduknya sambil berkata, "Tidak layak jika orang-orang shaleh disebutkan namanya sedangkan kita duduk bersandar."

Imam At-Tirmidzi berkata, "Tidak seorang imam besar pun yang selamat dari kesalahan dan kekeliruan."

Maka bagaimana dengan para ulama dan duat di zaman ini? Dan bagaimana pula dengan Anda, wahai pemberi nasihat yang mulia?

2. Dahulukan Persangkaan Baik 
 Wajib mendahulukan persangkaan baik kepada sesama kaum Muslimin, khususnya para ulama dan duat. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى, artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahapenerima Taubat lagi Mahapenyayang." (QS. Al Hujurat: 12).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

"Berhati-hatilah kalian terhadap buruk sangka, karena buruk sangka adalah perkataan yang paling dusta." (Muttafaqun ‘alaihi). Wallahu Waliyyut Taufiq. Insya Allah bersambung, dari berbagai sumber (Al Fikrah)
 

 

 

 

Artikulli paraprakWI Gelar Tablig Akbar
Artikulli tjetërWahdah Upgrading Dai

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini