BEBERAPA PELAJARAN PENTING DARI HADITS
TENTANG DIUTUSNYA MU’ADZ BIN JABAL KE YAMAN

Oleh : DR. Isa Al-Masmily
Insya Allah, dalam kesempatan ini kita akan mengangkat Sirah tentang Dakwah ilallah yang mudah-mudahan dengan menyimak kisah ini nantinya, ia tidak hanya sekadar menjadi maklumat, akan tetapi darinya kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting untuk diamalkan dalam kehidupan kita.

Kisah ini terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim yang tidak perlu diragukan lagi keshahihannya, sebuah kisah tentang diutusnya Mu’adz Ibnu Jabal ke negeri Yaman dalam menyampaikan dakwah illallah.

Dalam kitab Shahihain disebutkan Hadist riwayat Mu’adz radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mengutusku, beliau bersabda:
“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat La Ilaha IllAlloh – dalam riwayat yang lain disebutkan “supaya mereka mentauhidkan Alloh”-, jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Alloh telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Alloh telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan pada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya  dan Alloh” (HR. Bukhori dan Muslim).

Beberapa pelajaran dari hadits diatas
Dari Hadits yang berisi kisah yang agung ini meliputi beberapa hal penting untuk dicermati dan pelajaran yang sangat berharga yang mencakup:
1.    Urgensi Dakwah
2.    Ushul ad-Dakwah
3.    Skala Prioritas dakwah
4.    Akhlak seorang da’I
5.    Keadilan dalam bermuamalah dan berdakwah

Pelajaran pertama, adalah tentang urgensi dakwah.
Sesungguhnya pengutusan Muadz ibnu Jabal ke negeri yaman oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam ini terdapat pelajaran tentang ketegaran dan kesabaran dalam mengemban tugas mulia tersebut; yang pertama adalah bahwa Mua’dz pasti akan meninggalkan orang yang paling dicintainya, orang yang paling dekat dengannya, yang senantiasa beliau iringi, dimana Mu’adz shalat bersama beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, mendengarkan sabda-sabda dan nasihat-nasihat darinya Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.Yang kedua bahwa diutusnya Muadz ibnu Jabal dimana beliau pasti akan menempuh safar (perjalanan ) dalam yang cukup panjang, yang ketiga, bahwa perjalanan yang akan ditempuh sudah pasti menegangkan dan melelahkan dengan melalui medan alam yang keras, dan yang keempat bahwa sudah pasti nanti beliau akan menghadapi tantangan dari musuh-musuh Islam, atau orang-orang yang benci kepada dakwah ilallah.

Demikianlah, seberat apapun pengorbanan yang beliau kerahkan dalam menghadapi segala tantangan yang datang dengan berbagai bentuknya itu, tapi beliau menyadari bahwa usaha dan pengorbanan yang dilakukan tersebut harus dilaksanakan dengan niat semata-mata karena Allah (mengharap keridhaan dan balasan dari yang Maha mengetahui), oleh karenanya beliau rela meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam yang mencintainya dan menyayangi ummatnya untuk waktu yang tidak pasti kapan kemudian mereka akan bertemu kembali.

Sekarang mari kita bertanya kepada diri-diri kita, Siapkah kita untuk berkorban dan berdakwah sebagaimana Mu’adz ibnu Jabal berdakwah ilallah? Bahkan kita belum lagi diutus ke negeri (seperti) Yaman atau Belanda (misalnya), tapi adakah kita telah berdakwah kepada keluarga kita kepada tetangga kita, kepada sahabat, sudahkah kita berdakwah kepada jamaah masjid kita. Inilah yang menjadi pertanyaan bagi kita. Dan jika kita simak dari kisah ini, sahabat yang mulia ini rela meninggalkan Rasulullah dan orang-orang yang disayanginya. Barangsiapa yang tidak berdakwah kepada orang-orang yang dekat ataupun kerabatnya, maka akan sulit baginya untuk berdakwah kepada orang-orang yang jauh. Karenanya, mari kita mulai dakwah ini dengan memperhatikan karib kerabat kita, keluarga kita. Dan dalam riwayat disebutkan bahwa ketika Mu’adz ibnu Jabal telah kembali ke kota Madinah, beliau mendapati bahwa Rasulullah yang dirindukan telah wafat. Kemudian, pertanyaan terbesar untuk kita jawab adalah pengorbanan apakah yang telah kita kerahkan dalam dakwah ilallah ini, sebesar apakah andil atau sumbangsih kita dalam dakwah ini?

Pelajaran kedua yang dapat kita ambil dari hadits ini adalah mengenai Ushul al-Dakwah, dasar-dasar dalam berdakwah, disebutkan dalam hadits ini ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam berwasiat kepada Muadz, yang pertama sekali beliau sampaikan kepada Mu’adz adalah masalah Tauhid, bukan yang selainnya (seperti perkara akhlak, tazkiyatunnufus atau mengajarkan bagaimana metode berdakwah dengan cara berdagang misalnya), akan tetapi sekali lagi wasiat Rasulullah adalah menyeru manusia agar mentauhidkan Allah, inilah dakwah yang menjadi prioritas utama, kemudian setelah beriman dengan keimanan yang benar kepada Allah lalu mempersaksikan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah. Setelah beriman dan mentaati Allah, maka juga harus meyakini dan mentaati Rasulullah sebagai ikutan dan panutan dalam kehidupan seorang muslim, selanjutnya perintah untuk menegakkan shalat. Rasulullah tidak menyuruh kepada perkara yang lain selain melaksanakan shalat, sebagai kewajiban yang sangat agung dan tinggi kedudukannya, selanjutnya perintah untuk menunaikan zakat . kesemuanya ini semata-mata wahyu dari Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam.

Semua nabi diutus oleh Allah kepada seluruh manusia adalah untuk berdakwah kepada tauhid ini, sebagaimana kalamullah:
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thoghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl: 36)
*) Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah

Ushul yang kedua setelah dakwah kepada Tauhid adalah dakwah kepada amalan-amalan wajib (Faraaidh), yaitu dakwah kepada kewajiban-kewajiban kita yang diwahyukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bukan merupakan perkataan manusia biasa ataupun penyair, sebagaimana disebutkan dalam hadits Qudsi :

“…dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu perbuatan yang lebih Aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Dan seorang hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya…” (HR. Muslim).

Berdakwah kepada amalan-amalan yang difardhukan terutama perintah untuk menegakkan shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits Mu’adz diatas, shalat merupakan perintah yang sangat agung diantara perintah-perintah Allah lainnya. Bahkan disebutkan, bahwa tidak ada bagian (pahala) bagi seseorang yang tidak melaksanakan shalat. Perintah Shalat merupakan satu-satunya perintah Agung yang diperintahkan Allah dengan langsung meng-isra’ mi’raj-kan NabiNya ke langit (untuk menerima perintah shalat).  Disebutkan pula dalam hadits lainnya bahwa tidak akan diterima amal kebajikan dari seseorang pada hari kiamat nanti sebelum diperiksa amalan shalatnya, apabila shalatnya diterima, maka amalan lainnya akan diterima dan sebaliknya jika tidak diterima, maka amalan lainnya pun akan tertolak.

Kemudian muncul pertanyaan yang menjadi persoalan, yaitu bagaimana dengan manhaj dakwah, harakah-harakah dakwah yang ada ditengah-tengah kita sekarang ini, apakah gerakan-gerakan dakwah ini sudah sesuai dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam, sebagaimana hadits yang kita bahas ini, yaitu dengan memulai dari Tauhid kemudian masalah-masalah Faraaidh dan seterusnya, ataukah sebaliknya sudah menyimpang dari ushul-ushul dakwah tersebut?

Apakah peran/ fungsi kita dalam mabaadi’ dakwah ini? Maka dalam hal ini kita perlu mempelajarinya mabaadi yang disebutkan dalam hadits diatas yaitu kita harus mempelajari tentang urgensi Tauhid dan segala yang berkaitan dengannya, pembatal-pembatal keimanan, begitu juga tentang permasalah Faraaidh (utamanya shalat, zakat dan selainnya) sebelum kita terjun ke medan dakwah, yang kedua adalah kita mengamalkannya, kemudian mendakwahkannya.

Pelajaran yang Ketiga dari hadits ini adalah tentang urutan skala prioritas (Tartiib) dalam dakwah, hal ini sebagaimana yang telah disebutkan pada hadits diatas, “..Karena itu, maka hendaklah pertama sekali yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tiada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah…”.  Dalam berdakwah kepada orang-orang yang dekat dengan kita ataupun orang lain adalah hendaklah dengan mendahulukan masalah Tauhid kemudian shalat dan seterusnya, tentunya dengan memperhatikan kebutuhan dan keadaan objek dakwah yang kita hadapi.

Pelajaran yang Keempat dari hadits ini adalah tentang keadilan, seorang da’I mesti adil dalam bersikap dan menjauhi kezhaliman. Dalam hadits ini disebutkan, “…Dan waspadalah kamu dalam mengambil harta-harta yang terbaik bagi mereka..” jadi dalam hadits ini tidak diperbolehkan untuk mengambil harta-harta yang terbaik dari orang kaya meskipun untuk kemashlahatan fuqaraa sehingga menyebabkan mereka (orang-orang kaya) terzhalimi akan tetapi yang benar adalah sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan dalam agama. Oleh karenanya seorang da’I harus adil dalam masalah ini dan meninggalkan sikap zhalim.

“Dan takutlah engkau dari doa orang yang didzalimi, karena doa itu tidak ada sekat (hijab) antara dia dengan Allah Taala.” Pelajaran berikutnya dari hadits ini, bahwasanya janganlah kita menganggap bahwa orang-orang yang berdakwah itu sudah lepas dari kesalahan-kesalahan sehingga dia dapat melakukan apa saja dan berhati-hati dari kezhaliman jangan sampai merasa bahwa dialah yang paling benar karena doa orang-orang yang terzhalimi itu tidak ada sekat (hijab) antara dia dengan Allah Taala. (doanya didengarkan oleh Allah). Contoh bentuk kezhaliman seorang da’I kepada mad’unya adalah manakala seorang da’i mengambil atau memungut zakat, ataupun sedekah dari orang kaya dengan harta yang terbaik dan yang termahal yang mereka miliki, meskipun dengan alasan untuk kemashlahatan orang-orang fakir dan miskin. Adapun bentuk kezhalimannya terhadap orang miskin adalah manakala seorang da’i memungut zakat dari orang kaya, dan orang kaya memberikan hartanya yang paling buruk atau paling murah yang diambil zakatnya kemudian diserahkan kepada orang fakir miskin, maka itu juga adalah salah satu bentuk kezhaliman seorang da’i.

Pertanyaan, Bagaimana mengkompromikan antara ayat, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan ..” (QS. Ali Imran [3]: 2)   dengan hadits yang berbunyi: “…Dan waspadalah kamu dalam mengambil harta-harta yang terbaik bagi mereka..”adakah kontradiksi antara keduanya?
Jawab, Tidak ada kontradiksi diantara keduanya, sebab yang dimaksud dalam ayat diatas adalah dalam masalah-masalah sunnah sebagai motivasi untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara berinfak fi sabilillah adapun apa yang disebutkan dalam hadits tersebut adalah masalah zakat Fardhu (wajib) yang tidak boleh seseorang mengambil harta yang paling baik dari orang lain, kecuali pemberian harta itu dikeluarkan berdasarkan keridhaan si pemilik harta yang secara pribadi memberikan harta yang paling disukainya tersebut, jadi seseorang seharusnya mengambil harta yang pertengahan (bukan yang termahal, atau paling baik dan bukan pula sebaliknya yang paling buruk atau paling rendah nilainya). Namun jika seseorang ingin berzakat dengan hartanya yang terbaik, maka itu dibolehkan. Kesimpulannya tidak ada pertentangan antara keduanya.
Wallahu A’lam (Transkrip Daurah Islamiyah, 11 Agustus 2007 di Masjid Kampus Unhas Makassar)

 

Artikulli paraprakKepada Para Pengusung Dakwah!
Artikulli tjetërAmalan Yang Bermanfaat Bagi Orang Yang Telah Meninggal

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini