Kita sering mendengar khatib Jum’at atau penceramah pengajian mengawali khutbah dan ceramah dengan ajakan bersyukur. “Puji syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala,  terutama nikmat Iman dan Islam yang dengannya kita tergerak untuk hadir dan berkumpul di tempat yang mulia ini”.

Hal ini menarik untuk direnungkan. Benarkah kita bangga dan bersyukur sebagi Mukmin dan Muslim? Sudahkah kita menganggap Islam sebagai suatu nikmat yang patut disyukuri sebagaimana kesyukuran kita saat mendapatkan kenikmatan duniawi? Seperti mendatkan harta, kenaikan jabatan, membeli mobil baru, dan lain sebagainya?

Atau bahkan mungkin ada yang balik bertanya. Kenapa kita harus bangga dan bersyukur sebagai Muslim? Toh kita jadi Muslim karena kebetulan terlahir dari orangtua yang Muslim. Pandangan semacam ini kadang membuat seseorang tidak merasa bangga dan patut bersyukur menjadi Muslim. Karena ia merasa, menjadi Muslim merupakan sesuatu yang biasa saja dan tidak patut dibanggakan apalagi disyukuri.

Padahal menjadi Muslim adalah merupakan suatu kemuliaan dan kehormatan. Karena Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa ummat Muslim dan orang beriman merupakan ummat terbaik (Baca Qs. Ali Imran:110). Di ayat lain Allah melarang orang Muslim merasa hina dengan melalui firmanNya, “Janganlah kalian merasa hina, jangan pula merasa sedih, (karena) kalianlah yang paling tinggi jika kalian beriman”.

Lalu apa  alasan yang membuat kita harus bangga dan bersykur menjadi Muslim? Tulisan ini akan menguraikan empat alasan, mengapa seorang Muslim patut bangga dan bersyukur sebagai Muslim.

Pertama, Dari aspek nama agama, Islam adalah nama Agama yang datang langsung dari Allah, melalui Nabi-Nya dan termaktub dalam Kita Suci-Nya, yakni Al-Qur’an. Sebagaimana secara tegas dinyatakan oleh dalam beberapa ayat-Nya;

Sesungguhnya Agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam”. (Qs. Ali Imran: 19).

Ayat di atas menegaskan bahwa Islam adalah nama agama, dan agama satu-satunya yang diterima dan diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Baca juga:

Berislam adalah Tunduk 

Makna dan Karakteristik Islam

Nama Islam dari Allah dan bukan hasil kesepakatan  orang Islam terdahulu. Bukan pula disematkan oleh para pengamat keagamaan seperti agama-agama lainnya.

Penamaan Islam juga tidak tunduk kepada perkembangan sejarah dan perubahan budaya. Sebab Islam bukan agama budaya, dan bukan pula agama sejarah, tapi agama wahyu yang datang dari Allah Ta’ala.

Bukan hanya sikap Pasrah

Ada sebagian cendekiawan yang memaksakan pemahaman, Islam bukan nama Agama. Menurut mereka Islam hanya sikap pasrah kepada Tuhan (submission to God). Alasannya adalah,  makna Islam secara bahasa adalah sikap pasrah dan berserah diri kepada Tuhan. Sehingga siapapun yang pasrah kepada Tuhan, maka dia adalah Muslim, apapun agamanya. “Karena Islam bukan nama agama”, kata mereka.

Pandangan ini keliru, sebab meskipun istilah Islam secara bahasa bermakna pasrah, tunduk, dan berserah diri, tetapi bukan berarti Islam hanya diartikan sebagai “sikap pasrah dan berserah diri kepada Tuhan semata”, tanpa melihat cara pasrah dan kepada Tuhan yang mana.

Sebab Islam adalah Agama yang mengajarkan cara pasrah dan kepada Tuhan yang mana sikap pasrah itu ditujukan. Islam mengajarkan bahwa sikap pasrah yang benar adalah pasrah kepada Allah dengan cara yang diajarkan oleh Allah melalui Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi  wa sallam.

Inilah hakikat pasrah sebagai inti dari makna Islam, yakni, “Berserah diri kepada Allah melalui Tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan berbuat taat serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku perbuatan syirik”. (Al-Ushul Al-Tsalathah).

Jadi, menurut Islam cara pasrah yang benar kepada Allah adalah dengan dengan mengikuti cara yang ibadah yang diajarkan Allah melalui Nabi-Nya. Sebab tidak logis jika manusia sendiri yang menentukan sendiri cara mengekpresikan kepasrahan dan ibadahnya kepada Allah. Apakah manusia lebih hebat dari penciptanya? []

Sumber: Disadur dari buku “10 Kuliah Agama Islam; Panduan Menjadi  Cendekiawan Mulia dan Bahagia”, karya Dr. Adian Husaini.

Artikulli paraprakBer’Uzlah di Mihrab Taubat
Artikulli tjetërAnak Bersedekah Dengan Harta Ayahnya, apakah Ayahnya Dapat Pahala?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini