Sebagai Muslim kita patut bersyukur dan berbangga. Menyandang status sebagai Muslim merupakan kemuliaan. Karena, “Al-Islamu yu’la wa la yu’la ‘alaihi; Islam itu tinggi, dan tidak ada yang melebihi ketinggiannya”, kata Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi  Wasallam.

Sayangnya sebagian Muslim merasa tidak perlu bersyukur dan berbangga sebagai Muslim. Baginya menjadi Islam merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja. “Toh kita lahir sebagai Muslim karena orangtua kita Muslim”, kata sebagian orang.  Lalu apa yang harus dibanggakan dengan predikat sebagai Muslim?

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan alasan pertama, sebagaimana dijelaskan Dr. Adian Husaini dalam bukunya “10 Kuliah Agama Islam; Panduan Menjadi Cendekiawan Mulia dan Bahagia”, yaitu dari aspek nama agama. Menurutnya Islam adalah nama sebuah agama (ismul ‘alam/proper name) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nama Islam tidak tunduk oleh penamaan manusia. Karena penamaan Islam berasal dari wahyu  dan disebutkan secara tegas dalam kitab suci umat Islam, Al-Qur’an.

Kedua, Islam merupakan agama wahyu yang final. Sebagai agama wahyu yang final Islam memiliki konsep dasar dan ajaran yang juga bersifat final, yang tidak tunduk kepada perubahan zaman, pergantian tempat, dan budaya. Konsep Aqidah dan tauhid Islam tidak berubah. Syahadat Islam tidak pernah berubah sepanjang zaman. Karena konsep Aqidah dan tauhid dalam Islam tidak perna mengalami evolusi dari eksklusif menjadi inklusif lalu pluralis. Tidak. Konsep aqidah tauhid Islam tetap dan tidak berubah, serta tidak tunduk pada perubahan zaman dan budaya.

Demikian pula dalam aspek ritual ibadah. Sudah lebih 1400 tahun, cara Shalat Umat Islam tidak. Kapan dan di mana saja umat Islam melakukan gerakan dan membaca bacaan shalat yang sama. Kaum Muslimin tidak pernah dan tidak akan mungkin merubah bacaan dan ritul Shalat mereka. Karena bacaan dan gerakan Shalat bersifat final dan tetap sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad, “Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat”.

Demikian pula halnya dalam ibadah puasa, zakat dan haji. Semuanya bersifat final dan tidak tunduk  kepada waktu dan tempat. Di manapun cara puasa umat Islam sama, yakni menahan diri dari makan dan minum serta pembatal puasa lainnya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Zakat juga seperti  itu. Syarat dan ketentuan zakat  berlaku umum di seluruh belahan dunia berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan hadits Nabi shallalhu ‘alaihi wa sallam.

Jadi,Islam bukan agama budaya. Karena Islam tidak tunduk oleh budaya, meskipun Islam tetap menyesuaikan dengan aspek budaya dalam pelaksanaan ajaran-ajarannya. Inilah bukti dan alasan kedua, mengapa kita patut bangga dan bersyukur sebagai Muslim. Karena kita memeluk agama wahyu yang final dan tidak tunduk pada perubahan zaman dan budaya buatan manusia. []

Sumber: Disadur dari buku “10 Kuliah Agama Islam; Panduan Menjadi  Cendekiawan Mulia dan Bahagia”, karya Dr. Adian Husaini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here