Konon pada suatu zaman, adalah sebuah negeri bagaikan Bahtera Cinta (atau Kapal Cinta), yang berlayar di atas samudera-samudera yang berombak ganas dan berangin sangat kencang. Namun Bahtera Cinta itu terus berlayar dengan tenang, menembus dengan tenang dan santun dari berbagai terpaan ombak dan angin yang nan hebat. Bahtera Cinta itu pun terus berlayar mengelilingi berbagai samudera, dan terus menebarkan cintanya ke seluruh semesta.

Bahtera Cinta itu terus berlayar, meskipun para penumpang kapal itu tidak semuanya nyaman. Terkadang ada di antara penumpang itu yang berselisih pendapat hingga sangat runcing, tapi cinta yang tersebar di dalam Bahtera Cinta itu menyelesaikan semuanya. Semua perselisihan bagaikan sirna dengan siraman cinta di dalam kapal itu.

Di dalam Bahtera Cinta itu terkadang juga terjadi pergolakan hebat dari para penumpangnya. Demikian hebatnya, sampai terkadang Sang Nahkoda dari Bahtera Cinta itu pun ingin direbut kepemimpinannya. Sang Nahkoda pun dicaci maki, dicela, dan dihina dengan hebat. Namun cinta yang mendalam dari Sang Nahkoda pun membuat semua pergumulan tadi ibarat tiada bermakna. Semua celaan, hinaa, dan makian dari para pemberontak tadi, redup bagaikan api yang terus mengecil, karena cinta Sang Nahkoda tadi.

Bahtera Cinta itu pun terus berlayar, mengarungi berbagai samudera baru, dan terkadang berlabuh di beberapa pelabuhan. Cinta dari Sang Nahkoda pun terus tersebar ke seluruh semesta, ke seluruh samudera yang dilaluinya, ke seluruh pelabuhan yang disandarinya. Kisah Bahtera Cinta ini tiada akan pernah pupus, dan akan terus menebarkan dan menceritakan kebaikan ke seluruh manusia. Walau pun Sang Nahkoda itu sudah tiada, menghadap Sang Kuasa.

Bahtera Cinta itu adalah Islam, yang tidak akan pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, kecuali dalam Islam. Cinta kasih yang senantiasa ditebar dan ditaburkan, tiada akan pernah ada kecuali dalam Islam. Sang Nahkoda itu adalah Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang terus memberikan cinta tulusnya ke seluruh umat manusia tanpa terkecuali, hingga akhir hayat beliau.

Adalah Muhammad Sang Utusan Allah, yang mendirikan Negeri Islam dengan cinta. Tidak pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, sebuah negeri baru yang berdiri tanpa peperangan, kecuali Negeri Islam di Madinah Munawwarah 1437 tahun silam. Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang dapat menyatukan dan menjadikan mereka saudara: dua suku Yahudi di Madinah (Aus dan Khazraj) yang bersatu dalam keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sang pemimpin Negara Islam yang berkali-kali diperangi, direncanakan dibunuh, dipecah belah, dan berbagai makar lainnya. Namun itu semua tidak membuat Sang Nahkoda membenci mereka, bahkan mencintai mereka. Para pemakar dalam peperangan itu pun kalah semuanya di tangan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menjadi tawanan. Tapi tidak ada satu pun dari tawanan itu yang ditahan dalam penjara atau dihukum mati. Tidak pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, ada negara dan pemimpin negara seperti ini.

Berbagai makar dari kaum munafik dalam tubuh kaum muslimin di Negara Islam itu pun tidak membuat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam membenci mereka. Kaum munafik ini adalah kaum Quraisy musyrik penyembah berhala multituhan, tapi menunjukkan keislaman dalam lahiriyah mereka. Kaum munafik ini adalah musuh terbesar dalam sepanjang sejarah manusia. Namun pada Negara Islam ini, tidak pernah ada perkataan sedikitpun dari Panglimanya (yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) untuk mencela mereka, apalagi perintah membunuh para pengkhianat ini. Tidak pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, ada negara dan pemimpin negara seperti ini.

Pada sejarah Eropa era Kristen, sepanjang sejarah mereka, selalu terjadi hukuman mati atas berbagai sebab. Bahkan atas sebab-sebab yang masih sifatnya dugaan semata, hukuman mati pun terus bergulir. Sepanjang sejarah kerajaan-kerajaan Kristen di Eropa pra Islam, selama lebih dari 1.200 tahun, berbagai hukuman mati digulirkan. Kegiatan-kegiatan spionase dari kerajaan-kerajaan Eropa dilakukan untuk mengintip para warga negaranya, demi menjaga hegemoni kerajaan. Siapa yang dirasa mengancam kelangsungan kerajaan, maka imbalannya adalah: siksa, penjara, atau hukuman mati.

Islam pun datang mengubah semuanya, dengan Panglimanya shallallahu ‘alaihi wasallam yang penuh cinta kasih, menebar dan menabur kedamaian. Bahkan kaum Yahudi yang minoritas di Negara Islam waktu itu, demikian lancangnya mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ucapan salam yang hina langsung dimuka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Assaamu ‘alaikum” kata para Yahudi minoritas itu, atau “Kematian atasmu”. Rasulullah tidak mencacinya, tidak menghukumnya, apalagi sampai menghukum mati – tidak pernah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan. Semua Yahudi dan kaum munafik di Negara Islam, aman dan selamat dari berbagai keburukan, dibawah tebaran dan taburan cinta kasih Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan Bahtera Cinta itu pun terus berlayar …
Sang Nahkoda itu pun telah tiada …
Namun cinta kasih terus ditebar dan ditabur …
Menyebarkan kedamaian dan kebenaran ke seluruh semesta …

Jakarta, 26 Agustus 2016

Abu Al-Faatih
Si Pencari Cinta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here