Ada sebuah perkataan yang masyhur dikalangan para ulama tentang mukmin dan muslim yaitu :

إذا اجتمع افترق وإذا افترق اجتمع

“Ketika (dua istilah itu) berkumpul maka artinya berbeda, dan ketika tidak berkumpul maka artinya sama”.

Maksudnya adalah ketika disebutkan :
– “Fulan Mukmin” artinya dia juga seseorang yang muslim.
– Atau ketika disebutkan “Fulan Muslim” artinya dia juga seseorang yang beriman.

Yang artinya tidak ada perbedaan antara keduanya, baik mukmin maupun muslim, seseorang yang mukmin maka dia muslim dan seseorang yang muslim maka dia juga seseorang yang mukmin.

Namun ketika dua istilah itu digabung dalam satu kalimat, maka maknanya berbeda. Ketika kata Islam bersanding dengan iman maka maknanya adalah sesuatu yang mengarah kepada amal dhahir seperti shalat, zakat puasa, haji dan sebagainya.

Dan ketika orang yang mengerjakan amal-amal dhohir ini disertai keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (Imanun Qolbi) maka dia adalah mukmin, dan bagi yang mengerjakan amalan-amalan tersebut hanya sebatas dhahirah saja tidak disertai keimanan maka dia sama seperti kondisi orang-orang munafik yang hanya menampakkan amalan dhahir padahal hatinya sangat benci kepada islam.

Sedangkan iman sendiri maknanya adalah amal batiniyah (amal yang ada pada hati seseorang) seperti rukun iman yang enam, iman kepada allah, malaikatnya, kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, yaumul akhir, qada dan qadar. Atau amal qulub (hati) yang lain, seperti khouf (takut kepada allah), raja’ (berharap kepada allah) dan sebagainya.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu.” [Q.S. Al Hujurat : 14]

Ayat ini menunjukkan bahwasanya Islam adalah perkataan dengan lisan dan amal melalui perbuatan, sedangkan iman adalah penyerahan diri terhadap hal-hal yang batin/ i’tiqod (keyakinan) dan hati meyakininya dengan sebenar-benarnya keyakinan.

Akan tetapi terkadang juga dapat bermakna berbeda, tidak semua muslim adalah mukmin sebagimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kisah nabi luth alaihis salam :

.فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ* فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Maka Kami tidak mendapati di dalamnya (negeri itu), kecuali sebuah rumah dari orang-orang Muslim (Luth).” [Q.S. Ad Dzariyat : 35-36]

Dalam ayat ini allah mensifati orang-orang yang ada di dalam rumah nabi Luth dengan Islam, termasuk juga istrinya yang hanya menampakkan islam padahal dia sangat benci dan kafir terhadap agama yang dibawa oleh nabi Luth, sedangkan Allah memberikan sebutan bagi orang-orang yang selamat sebagai orang-orang mukmin dengan iman yang sebenar-benarnya.

Kesimpulannya, iman dan Islam ketika disebutkan secara terpisah maka yang satu melengkapi makna yang lain, seseorang yang mukmin maka dia juga seseorang yang muslim sebagaimana sebaliknya, akan tetapi jika disebutkan dalam satu kalimat maka muslim artinya seseorang yang mengerjakan amalan-amalan dhahir (yang tampak), sedangkan mukmin adalah orang yang mengerjakan amalan-amalan batin (yang tersembunyi).

Semoga bermanfaat, Wallahu a’lam.

______
Yoshi Putra Pratama
(Mahasiswa Universitas Islam Madinah)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here