Antara Berobat dan Tawakkal
(Al Fikrah No.03 Tahun VIII/12 Safar 1428 H) 
 

Perasaan berduka, nampak jelas bergelayut di wajah salah seorang ibu yang tengah memikirkan nasib salah seorang keluarganya yang sedang ditimpa penyakit.

Namun ironis, suaminya justru melarangnya untuk berobat. Usut punya usut, ternyata suaminya adalah salah seorang simpatisan jamaah dakwah yang pengikutnya pada umumnya  beraqidah Sufiyah.

HUKUM PENGOBATAN
Para ulama telah sepakat tentang bolehnya berobat dan bahwasanya hal itu disyariatkan. Akan tetapi mereka berbeda pendapat, manakah yang lebih utama, berobat  atau meninggalkannya?

Pendapat Pertama: Berobat lebih utama
Di antara dalil-dalilnya adalah:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berbekam, bahkan beliau menganjurkannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 Åöäøó ÃóãúËóáó ãóÇ ÊóÏóÇæóíúÊõãú Èöåö ÇáúÍöÌóÇãóÉõ

"Sebaik-baik cara kalian berobat adalah dengan hijamah (bekam)."  (HR. Bukhârî).

‚ Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
"Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah telah menurunkan penyembuh untuknya." (HR. Bukhârî).

Demikian pula dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, artinya, "Penyembuhan terdapat dalam tiga hal; sayatan alat bekam, tegukan madu dan sundutan api. Dan aku melarang ummatku melakukan pengobatan dengan sundutan api." (HR. Bukhârî).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, artinya, "Setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang tepat dalam melakukan pengobatan suatu penyakit, maka dengan izin Allah U dia akan sembuh." (HR. Muslim).

Pendapat Kedua: Lebih utama tidak berobat
Di antara dalil-dalilnya adalah:
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan kriteria tujuh puluh ribu umatnya yang masuk surga tanpa hisab. Di antaranya, "Mereka tidak meminta ruqyah, tidak mengundi nasib, tidak berobat dengan sundutan api, dan hanya kepada Rabb mereka sajalah mereka berserah diri." (HR. Bukârî dan Muslim).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

 ãóäú ÇßúÊóæóì Ãóæú ÇÓúÊóÑúÞóì ÝóÞóÏú ÈóÑöÆó ãöäú ÇáÊøóæóßøõáö

"Barangsiapa yang melakukan pegobatan dengan sundutan api atau meminta untuk diruqyah, maka sungguh dia telah meninggalkan sikap tawakkal." (HR. Ahmad dan selainnya).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Belum sempurna tawakkal orang yang melakukan pengobatan dengan ruqyah dan orang yang meminta untuk diruqyah." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzî, hasan shahîh).

Dalam kitab Shahîh Bukhârî dikisahkan, seorang budak wanita yang menderita penyakit ayan, mendatangi Nabi r dan meminta beliau untuk mendoakan kesembuhan baginya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan pilihan kepadanya, didoakan kesembuhan baginya sehingga dia sembuh, atau dia bersabar sehingga masuk surga? Maka budak wanita itu memilih pilihan kedua. Budak itu hanya meminta agar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa agar auratnya tidak terbuka ketika penyakitnya kambuh.

Pendapat Ketiga: Berobat hukumnya wajib.
Dalil-dalil pendapat ketiga:
Dari Usamah bin Syuraik, beliau berkata, "Aku pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu datanglah serombongan orang Badui. Mereka berkata, "Wahai, Rasulullah! Perlukah kita berobat?" Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, "Ya! Wahai, hamba-hamba Allah! Berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah Shubhaanahu wa Ta’ala tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia telah menurunkan pula penawarnya, kecuali satu penyakit." Beliau ditanya, "Penyakit apakah itu?" RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, "Ketuaan." Dalam suatu riwayat disebutkan, "Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Allah telah menurunkan penawarnya, hanya diketahui oleh orang-orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang-orang yang tidak mengetahuinya." (HR.Ahmad, Abû Dâwûd dan At-Tirmidzî, hasan shahîh).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan untuk setiap penyakit penawarnya. Maka berobatlah, dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang haram." (HR. Abû Dâwûd dan Al Baihaqî).

Komentar Ulama tentang Pengobatan   
Imam Nawâwî berkata dalam penjelasan beliau terhadap sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam "Untuk setiap penyakit ada penawarnya", "Hadits ini menunjukkan dianjurkannya pengobatan, dan ini adalah mazhab sahabat-sahabat kami (mazhab Imâm Syâfi’î), demikian pula mayoritas ulama salaf, dan merupakan pendapat pada umumnya ulama-ulama setelahnya."
   
Al Qâdhî ‘Iyâdh berkata, "Hadits-hadits ini telah mengumpulkan antara perkara agama dan dunia serta keabsahan ilmu pengobatan, dan bolehnya berobat secara umum, serta dianjurkannya berobat dari hal-hal yang telah disebutkan dalam hadits  Muslim. Hadit-hadits ini merupakan bantahan kepada orang-orang yang mengingkari bolehnya melakukan pengobatan, seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang berlebih-lebihan dari kalangan Sufi. Mereka mengatakan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan takdirnya, maka tidak ada gunanya berobat. Para ulama menjadikan hadits-hadits ini sebagai dalil. Mereka meyakini bahwa Allah Shubhaanahu wa Ta’ala adalah pelaku (yang menurunkan penyakit sekaligus penawarnya), dan bahwasanya pengobatan pun termasuk dari takdir Allah Shubhaanahu wa Ta’ala."

Pengobatan Tidak Menghilangkan Tawakkal
Upaya penyembuhan tidaklah menghilangkan tawakkal, karena tawakkal adalah ketergantungan hati kepada Allah Shubhaanahu wa Ta’ala, sama saja apakah orang itu menjalani sebab-sebab atau tidak. Rasulullah r telah bersabda kepada orang yang tidak menambatkan tali ontanya karena alasan tawakkal, "Tambatkanlah ontamu, kemudian bertawakkallah!" (HR. At-Tirmidzî). Dan dalam kesempatan lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, maka Allah akan memberikan rejeki kepada kalian, sebagaimana Dia memberikan rejeki kepada burung, berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan kembali dalam keadaan kenyang." (HR. At-Tirmidzî).
   
Al ‘Allamah Ibnul Qayyim berkata, "Hadits-hadits di atas mengandung perintah untuk berobat. Berobat tidaklah bertentangan dengan rasa tawakkal. Sebagaimana halnya menolak rasa lapar, rasa dahaga, panas, dan dingin dengan hal-hal yang menjadi kebalikannya. Bahkan hakekat tauhid itu hanya sepurna dengan melakukan sebab musabab yang memang telah Allah jadikan sebagai hukum sebab  akibat, baik dalam ajaran syariat-Nya maupun menurut takdir-Nya. Menolak hukum sebab akibat berarti mengotori sikap tawakkal itu sendiri, bahkan mengotori perintah dan kebijakan Allah serta melemahkannya, karena orang yang menolak sebab akibat seolah-olah berkata, "Meninggalkan hukum sebab akibat itu lebih memperkuat rasa tawakkal." Padahal meninggalkan hukum sebab akibat itu justru menandakan sikap lemah yang bertentangan dengan sikap tawakkal. Karena hakekat tawakkal adalah bersandarnya hati kepada Allah untuk mendapatkan hal yang berguna bagi diri si hamba dan menolak hal-hal yang berbahaya dalam urusan dunia dan akhirat. Namun penyandaran itu harus diiringi dengan melakukan ikhtiar. Bila tidak, berarti menentang kebijakan dan syariat Allah. Jangan sampai seorang hamba menjadikan kelemahannya sebagai rasa tawakkal, atau ketawakkalannya sebagai satu kelemahan.
   
Hadits ini juga mengindikasikan bantahan terhadap orang yang menolak berobat. Karena ada orang yang berpendapat, "Kalau kesembuhan itu sudah ditakdirkan oleh Allah, maka berobat itu tidak ada gunanya. Kalau memang tidak ditakdirkan, berarti juga tidak berguna." Padahal, demikian pula dengan penyakit yang hanya terjadi dengan takdir Allah, sementara takdir Allah itu, tidak dapat ditolak atau dipungkiri.
   
Pertanyaan seperti itulah yang dilontarkan oleh orang-orang Badui yang menjumpai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Adapun para sahabat yang utama, tentunya adalah orang-orang yang mengenal Allah, mengenal kebijaksanaan dan sifat-sifat-Nya, sehingga tidak mungkin melontarkan pertanyaan seperti itu.
   
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban yang komplit dan tuntas, "Semua obat-obatan itu, ruqyah dan imunisasi adalah termasuk takdir Allah." Tidak ada sesuatu pun yang keluar dari takdir-Nya. Takdir Allah dapat berubah dengan takdir-Nya pula. Perubahan itu pula termasuk takdir-Nya. Maka tidak ada jalan untuk keluar dari takdir-Nya dengan cara apa pun. Kasusnya sama dengan menolak takdir lapar, haus, panas, dan dingin dengan hal-hal yang merupakan kebalikannya. Juga seperti menolak takdir musuh dengan jihad. Orang yang berusaha merubah, yang dirubah, dan perubahan itu sendiri, semuanya adalah takdir Allah."

Kesimpulan
Pengobatan hukumnya mubâh (dibolehkan), karena hal ini telah dilakukan oleh pemimpin orang-orang yang bertawakkal, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga sama sekali tidak perlu dipersoalkan orang-orang yang melakukannya. Demikian pula dengan orang-orang yang memilih untuk bersabar atas penyakitnya apabila dia termasuk orang-orang yang yakin dan tawakkal. Akan tetapi, jika tidak demikian, maka yang lebih utama bagi dirinya adalah segera berobat, dengan keyakinan bahwa Allah Shubhaanahu wa Ta’ala Maha Penyembuh.
Wallahu A’lâ wa A’lam

   

 

Artikulli paraprakAgar Cita-cita Itu Bertenaga
Artikulli tjetërPengukuhan Belopa dan Pengajian di Palopo

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini