AMERIKA DIAMBANG KEHANCURAN
(Al Balagh Ed.67/Th.2/1427 H)

Meski kedatangan Presiden AS George W. Bush di Indonesia beberapa waktu lalu tidak mengagendakan pembicaraan tentang terorisme, namun yang pasti, AS akan tetap menunjukkan hegemoninya (penguasaan)nya atas semua negara,termasuk Indonesia. 

Meski barat saat ini memiliki kekuatan tapi mereka menghadapi problem legitimasi. AS, meski memiliki kekuatan hebat, tapi dimata sebagian besar negara dunia ia tidak lagi punya legitimasi. Artinya, kekuatan dan superioritas Barat tidak mendapat restu dunia. Dalam hal ini AS memang tidak mau disaingi oleh siapapun. Ia mau menjadi penguasa tunggal.

Berbagai intervensi yang dilakukandalam rangka menjaga hegemoninya. William Blum, mantan pejabat Deplu AS, menyebut ada empat tujuan invasi-invasi AS, yaitu: (1) Membuat dunia terbuka dan nyaman untuk globalisasi, teruma untuk perusahaan internasional milik AS. (2)Meningkatkan pendapatan kontraktor-kontraktor yang banyak “bermurah hati” kepada anggota kongres dan penghuni gedung putih. (3) Mencegah munculnya masyarakat manapun yang dapat memunculkan contoh alternatif bagi model kapitalis. (4) Memperluas hegemoni politik, ekonomi dan militer seluas mungkin di muka bumi, dan untuk mencegah munculnya kekuatan regional yang dapat menandingi supremasi AS.

Keinginan untuk menjadi penguasa tunggal juga diindikasikan oleh AS yang sekarang sedang menghadapi proses decline, sehingga tidak yakin dengan kekuatannya sendiri, atau selalu merasa dalam keadaan terancam eksistensinya. Kejumudan melanda. Kebuntuan akan jalan keluar dari berbagai masalah yang melilit ummat manusia belum juga berhasil di tembus. Karena itu, sejak lama, sejumlah ilmuan Barat melihat tanda-tanda kejumudan dan keruntuhan Barat. Tahun 1961, sejarawan Arnold J.Toynbee menulis tentang posisi dan sikap AS yang tidak adil, dan hanya mementingkan kekuatan-kekuatan besar, kaya,dan minoritas ummat manusia, persis seperti yang dilakoni inperium Romawi.

Tanda-tanda kemunduran AS sudah banyak dipaparkan. Paul Kennedy, dalam bukunya “The Rise and Fall of the Great Powers” memaparkan: “Tahun 1985, utangnya sudah mencapai 1.823 milyar USD. Defisit neracanya 202,8 milyar USD. Tahun 2002 defisit neracanya diperkirakan telah mencapai 400 milyar dolar AS…”. Ini tidak mengherankan, sebab AS harus menyediakan anggaran yang tidak kecil untuk membiayai mesin perangnya. Untuk memproduksi senjata dalam Perang Bintang (Star Wars), tahun 1999, AS harus mengeluarkan dana 6,6 milyar USD. Untuk siapa mesin perang itu? Untuk menghadapi Korea Utara, sebuah negara miskin yang untuk memberi makan rakyatnya saja tidak mampu…! Dalam hal senjata pemusnah massal, Barat tidak mau bersikap jujur dan adil. Artinya, hanya ia dan kelompoknya yang boleh memproduksi senjata pemusnah massal. Negara-negara yang dicap sebagai musuh, atau negara yang mereka juluki “sebagai poros setan”, seperti Korea Utara, Iran, Libya, Suriah dan lain-lain diharamkan memilikinya. Tetapi Negara-negara sekutunya, bukan saja boleh akan tetapi mereka justru dibantu memiliki dan memproduksinya seperti Israel. Dalam hal bunuh membunuh terhadap ummat manusia pun dibeda-bedakan. Kalau yang membunuh negara tertentu yang korbannya masyarakat Barat, maka pembunuhnya dikatakan teroris. Tapi jika mereka pelakunya, maka dikatakan sebagai upaya “menegakkan perdamaian”. Samuel P. Huntinton (1996)-penasehat utama politik luar negeri AS-menulis panduan dalam menjalankan politik luar negeri, “Adalah manusia untuk membenci. Untuk menentukan jati diri dan sebagai motivasi orang membutuhkan musuh: kompetitor dalam bisnis, rival dalam pencapaian, dan lawan dalam politik”. Dan kini, di zaman ultramoderen, AS-negara superhebat yang belum pernah ada dalam sejarah manusia- telah menentukan musuh utamanya, mitra tandingnya, yang sangat tidak seimbang, yaitu seorang kakek yang bernama “Osama bin Laden”. Hal semacam ini tentu saja belum pernah terjadi dalam sejarah ummat manusia.

Inikah riwayat akhir peradaban Barat? Yang jelas, segala sesuatu kalau sudah sampai puncaknya, pasti akan menggelinding turun, cepat atau lambat. Allah ta’ala berfirman: “Dan demikianlah hari-hari dipergilirkan di antara manusia agar Allah mengetahui orang-orang beriman dan mengambil di antara mereka saksi. Dan Allah benci kepada orang-orang dzalim…”(QS,Ali Imran:140). Pepatah Arab mengatakan, “kulla maa tamma syai’un nuqshanu” artinya: segala sesuatu kalau sudah sempurna, pasti akan berkurang. Dalam sebuah artikel yang berjudul ”END OF AMERICA’S EMPIRE”disebutkan kondisi Imperium Romawi menjelang kehancurannya. Cicero, seorang orator zaman itu, mengingatkan Romawi agar menyeimbangkan anggarannya, mengurangi utangnya, dan mengontrol keangkuhannya. Nasehat itu diabaikan, akhirnya Romawi runtuh tahun 476 M. Bernard Shaw menimpali “Romawi runtuh, Baylon runtuh, dan akan tiba giliran Amerika…” Wallahu ta’ala a’lam.
Sumber :al-Qur’an & Terjemahnya & Wajah Peradaban Barat oleh Adian Husaini 

Artikulli paraprakalbalagh ed-66
Artikulli tjetërBEM Ma’had ‘Aly STIBA Adakan Bedah Buku

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini