Ada 6 amalan yang kami akan jelaskan dengan singkat berikut ini.

Pertama: Puasa

Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah karena Nabi mendorong kita untuk beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh.

Dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, beberapa istri Nabi  mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلميَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

Rasulullah biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), dan berpuasa tiga hari setiap bulannya1, …”2

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin dan Qatadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama.3

Di antara puasa-puasa pada sepuluh hari tersebut ada puasa yang dinamakan dengan puasa ‘Arafah. Puasa ‘Arafah adalah puasa yang dilaksanakan bertepatan dengan waktu wukufnya para jamaah haji di ‘Arafah. Berpuasa pada hari ‘Arafah adalah amalan yang sangat besar keutamaannnya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

Puasa ‘Arofah dapat menghapuskan dosa4 setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa ‘Asyuro (sepuluh Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu”5.

Dan perlu diingat, anjuran untuk melakukan puasa ‘Arafah hanyalah bagi kaum muslimin yang tidak melaksanakan haji. Adapun bagi yang sedang berhaji maka puasa tersebut tidak dianjurkan. Hal ini sebagaimana riwayat,

عَنْ مَيْمُونَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِى صِيَامِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ عَرَفَةَ ، فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِحِلاَبٍ وَهْوَ وَاقِفٌ فِى الْمَوْقِفِ ، فَشَرِبَ مِنْهُ ، وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ

Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya.”6

Kedua: Takbir,Dzikir dan Doa

Yang termasuk amalan sholeh juga adalah bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, dan beristighfar.

Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di pasar, jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya.

Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan,

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ .

Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10  hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyrik.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah.7

Dianjurkan pula untuk memperbanyak doa pada sepuluh hari pertama Bulan Dzulhijjah, terlebih pada hari ‘Arafah. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Amr bin Syu’aib bahwasanya Nabi bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari ‘Arafah.”8

Catatan:

Perlu diketahui bahwa takbir itu ada dua macam, yaitu takbir muthlaq (tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu) dan takbir muqayyad (dikaitkan dengan waktu tertentu). Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.

Sedangkan ada juga takbir yang sifatnya muqayyad, artinya dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib berjama’ah.

Takbir muqayyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari shalat Shubuh pada hari ‘Arafah (9 Dzulhijah) hingga waktu ‘Ashar pada hari tasyrik yang terakhir. Adapun bagi orang yang berhaji dimulai dari shalat Zhuhur hari Nahr (10 Dzulhijah) hingga hari tasyrik yang terakhir (13 Dzulhijah).

Cara bertakbir adalah dengan ucapan : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Dan yang sesuai sunnah adalah bertakbir dengan sendiri – sendiri, tidak dilakukan secara berjamaah atau dipimpin oleh seseorang. Wallahu a’lam.

Ketiga : Menunaikan Haji dan Umrah

Yang paling afdhal ditunaikan di sepuluh hari pertama Dzulhijah adalah menunaikan haji ke Baitullah.

Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Jibrin rahimahullah berkata, “Amal ini (haji dan umrah) adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain adalah sabda Nabi, “Dari umrah ke umrah adalah penghapus (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga”.9

Keempat : Memperbanyak Amalan Shalih

Sebagaimana hadits Ibnu ‘Abbas yang kami sebutkan di atas, hadits tersebut menunjukkan dianjurkannya memperbanyak amalan sunnah seperti shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan beramar ma’ruf nahi mungkar dan amalan shalih lainnya.

Kelima: Berqurban

Hal ini yang akan dijelaskan lebih lanjut setelah Bab ini, Insya Allah.

Keenam : Bertaubat

Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan perilaku zhalim terhadap sesama.

Intinya, keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca AlQur’an, dan amalan shalih lainnya.10

Maka, sudah seharusnya setiap muslim menyibukkan diri di hari-hari tersebut dengan melakukan ketaatan pada Allah , dengan melakukan amalan wajib dan menjauhi larangan Allah11.

1 Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi

2 HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih

3 Latho-if Al Ma’arif, hal. 459

4 Mengenai pengampunan dosa dari puasa Arafah, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dosa kecil. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, semoga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, semoga ditinggikan derajat”(Syarh Shahih Muslim, 8: 51). Sedangkan jika melihat dari penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahullah, bukan hanya dosa kecil yang diampuni, dosa besar bisa terampuni karena hadits di atas sifatnya umum. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 7: 498-500).

5 HR. Muslim

6 HR. Bukhari dan Muslim.

7 Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyrik”.

8 HR. Tirmidzi, hasan

9 HR. Bukhari dan Muslim

10 Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, Dar Al Imam Ahmad, hal. 116, 119-121

11 Point-point yang ada kami kembangkan dari risalah mungil “Ashru Dzilhijjah” yang dikumpulkan oleh Abu ‘Abdil ‘Aziz Muhammad bin ‘Ibrahim Al Muqoyyad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here