Ibadah dan amalan shaleh menjadi kunci dalam meraih ridha Sang Ilahi. Walaupun demikian, tak satu pun hamba yang mampu menebus surga dan bebas dari Neraka Allah subhanahu wata’ala semata-mata hanya dengan berbekal amalan yang diusahakan dalam kurun masa hidup yang singkat, walau dengan sangkaan usaha yang maksimal. Sang kekasih Allah pun pernah bertitah:
لا يُدْخِلُ أحَدًا مِنكُم عَمَلُهُ الجَنَّةَ، ولا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، ولا أنا، إلَّا برَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ
Artinya: “Tidak seorang pun diantara kalian yang dimasukkan surga sebab amalnya dan tidak juga diselamatkan dari neraka karenanya, tidak pula diriku, kecuali sebab rahmat dari Allah.” (HR. Muslim)
Sabda Nabi tersebut tidak boleh disalah mengerti bahwa amalan ibadah jika demikian tidaklah ada gunanya. Akan tetapi perlu dipahami bahwa amalan ibadah merupakan kunci rahmat dan ridha Allah subhanahu wata’ala, sehingga Allah berkenan menganugrahkan hamba kenikmatan surga dan menjadi penghalang siksa azab neraka.
Maka dari itu, amalan ibadah yang dituntut dan menjadi kebutuhan hamba pada hakikatnya bukan dilihat dari segi kuantitas atau banyaknya amalan yang dikerjakan. Memaksimalkan ibadah dengan meningkatkan kuantitas adalah hal yang baik, namun yang lebih penting dari itu adalah kualitas amalan ibadah.
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلً
Artinya: “(Allah) yang menjadikan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik (kualitas) amalnya. (QS. al-Mulk: 2)
Allah subhanahu wata’ala menyebutkan ahsanu ‘amala yang berarti amalan yang paling baik dari segi kualitasnya yang menjadi tujuan ujian kehidupan, bukan amalan yang paling banyak dari segi kuantitas. Sebab amalan yang berkualitas lah yang bernilai dan diterima disisi Allah subhanahu wata’ala sehingga hamba bisa meraih rahmat dan ridha Nya.
Oleh karena itu setiap mukmin wajib tahu bagaimana menjadikan amalan ibadah bisa berkualitas, bernilai dan diterima disisi Allah subhanahu wata’ala. Karena betapa banyak hamba yang menyangka telah beramal, namun lelah dan letihnya tidak berbuah surga sebab amalannya sia-sia, bahkan mendatangkan murka Allah subhanahu wata’ala.
هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلْغَٰشِيَةِ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَٰشِعَةٌ عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ
Artinya:“Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan?. Pada hari itu banyak manusia dengan wajah tertunduk terhina, raut wajah yang letih sebab kerja keras lagi kepayahan.” (QS. al-Gasyiyah: 1-3)
Al-Fudhail bin ‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai amalan yang berkualitas dalam firman Allah pada QS. al-Mulk: 2 , ia mengatakan, “(Amalan berkualitas) adalah amalan yang paling ikhlas dan paling benar.”
Para ulama sepakat menyatakan bahwa secara umum suatu ibadah akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala apabila memenuhi dua syarat mutlak yaitu niat ikhlas hanya mengharap pahala dari Allah subhanahu wata’ala dan yang kedua adalah mutaba’ah ar-Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam atau mengikuti petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua syarat ini mesti ada dan tidak bisa dipisahkan. Bila hanya ikhlas saja, namun tidak sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ibadah kita tidak akan diterima. Begitupula sebaliknya, amalan ibadah sesuai petunjuk namun tanpa dibarengi niat ikhlas, maka amalan menjadi sia-sia.
- Ikhlash
Niat adalah bagian yang tak terpisahkan dari ibadah. Ia menempati posisi pertama dalam setiap rukun atau syarat sah ibadah. Niat adalah bahasa hati dimana amalan kecil bisa bernilai besar disisi Allah jika niatnya benar, sebaliknya amalan besar jika disertai niat yang salah akan bernilai kecil atau bahkan tak ada nilainya sama sekali disisi Allah.
Yahya bin Abi Katsir berkata, ”Belajarlah niat, karena niat lebih penting daripada amal” [Jami’ul Ulum Wal Hikam (I/70)].
Seseorang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Jika ia berniat semata karena Allah, niscaya Allah datangkan pahala untuknya. Namun, jika niatnya karena tendensi duniawi atau mencari perhatian dan apresiasi dari makhluk maka Allah tidak menilainya sebagai sebuah ibadah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إنما الأ عمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى
Artinya: “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan “ (HR. Bukhari & Muslim).
Ikhlas merupakan salah satu amalan hati yang sangat menentukan diterima tidaknya amal shaleh yang dilakukan seorang hamba. Tanpa niat yang iklash maka sebesar dan sebanyak apapun kebaikan yang kita lakukan tidak akan memberi manfaat kepada pelakunya.
Ada banyak redaksi dari para ulama dalam mendefinisikan atau memberikan penggambaran tentang ikhlas. Ada yang berpendapat bahwa ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, ada pula yang mengatakan bahwa ikhlas adalah mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya.
Fudhail bin ‘Iyadh berkata : “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’. Dan beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas ialah, apabila Allah menyelamatkan kamu dari keduanya”.[Madarijus Salikin (II/95-96)]
Pernah ada orang bertanya kepada Suhail: “ Apakah yang paling berat bagi nafsu manusia?” Ia menjawab,”Ikhlas, sebab nafsu tidak pernah memiliki bagian dari ikhlas” [Madarijus Salikin (II/95)]
Maka mengikhlaskan niat dalam setiap amal ibadah yang kita kerjakan adalah ‘harga mati’. Segala bentuk atau motif duniawi, pernak-pernik hawa nafsu serta bisikan-bisikan dari syaitan akan senantiasa merongrong niat ibadah kita. Jika syaitan tidak berhasil menghalau kita dari melakukan sebuah amal kebajikan, maka syaitan akan masuk untuk merusak niat dan keikhlasan. Maka berhati-hati dan teruslah berjuang memperbaiki niat dan memurnikan keikhlasan dalam beribadah.
- Mutaba’ah atau Ittiba’
Allah Azza wa Jalla berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا “…
Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (QS. Al-Maa-idah: 3)
Ayat ini menjelaskan tentang kesempurnaan syariat Islam. Semua telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga hal terkecil sekalipun tak ada yang terluput melainkan semua telah diajarkan. Islam adalah agama yang sempurna, tak perlu lagi ada penambahan ataupun pengurangan. Sebab sesuatu yang telah sempurna ketika ditambah atau dikurangi niscaya akan merusak kesempurnaannya. Contoh kecil saja, ketika seorang ibu selesai memasak sop kuah kesukaan keluarganya. Resepnya sudah tertakar dengan pas menghasilkan rasa yang sempurna, tiba-tiba seorang anak balitanya datang dan menambahkan satu sendok garam ke dalam sop kuah yang telah terhidang itu. Kira-kira apakah rasa masakan tersebut masih tetap sempurna setelah adanya penambahan?
Setelah selesai dengan niat yang ikhlas, ternyata belum cukup untuk menjadikan amal ibadah itu diterima disisi Allah. Masih ada syarat yang kedua, yakni mutaba’ah. Hal ini terkadang diabaikan oleh sebagian kaum muslimin dalam melancarkan ibadahnya. Ada yang beranggapan bahwa cukup niat ikhlas saja dalam beramal, yang penting lillahi ta’ala masalah kaifiat atau bagaimana cara pelaksanaanya tidak perlu dipersoalkan. Jelas, ini adalah anggapan atau pendapat yang keliru. Karena diantara tugas dan fungsi diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallan adalah untuk menjelaskan tata cara ber ibadah yang baik dan benar, menjadi role model atau panutan. Sehingga dalam ranah ibadah, tidak ada ruang bagi umat ini untuk berimprovisasi sekehendaknya kecuali hal-hal yang memang tidak dirincikan secara khusus atau perkara-perkara yang sudah melalui proses telaah para ulama.
Ittiba’ artinya mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebuah amalan bernilai Ibadah hanya ketika amalan tersebut dilakukan dengan niat ikhlas dan sesuai apa yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dia larang kepadamu, maka tinggalkanlah” (QS. Al-Hasyr: 7)
Ayat ini menjadi dalil tentang kewajiban ittiba’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Barangsiapa yang menambahkan ataupun mengurangi dari syariat yang telah Allah turunkan dan disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka hal tersebut tertolak dan tidak dinilai sebagai satu ibadah.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: “Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak.” (HR. Bukhari Muslim)
Maka selain bersungguh-sungguh dalam beramal shalih juga harus bersungguh-sungguh dalam mengikhlaskan niat dan mutaba’ah agar kita bisa meraih ‘amalan mutaqabbalan. Apalah artinya konsisten beribadah namun tidak dibarengi dengan niat ikhlas karena Allah semata. Rajin shalat, rutin sedekah, umrah tiap tahun tapi dibaliknya hanya mengharapkan pujian manusia. Begitupun yang kedua, apalah arti amalan-amalan yang kita telah jaga baik-baik keikhlasan hati namun ternyata kita lakukan tidak sesuai tuntunan. Ketika seorang jamaah shalat subuh tiba-tiba berdiri menambah kan rakaat shalatnya setelah imam mengakhiri dengan salam. Ketika selesai ditanyalah ia mengapa demikian? Ternyata ia melebihkan rakaat dengan maksud memperoleh pahala yang lebih juga. Namun hal itu tidak termasuk ‘amalan mutaqabbalan. Disinilah pentingnya ilmu syar’i agar setiap ibadah kita berstatus ‘amalan mutaqabbalan.
Sebagaimana nabi Ibrahim alaihissalam yang yang merupakan khalilullah, namun beliau alaihi salam juga masih berdoa kepada Allah setiap kali selesai menunaikan satu ibadah beliau berdoa memohon agar amalan tersebut menjadi ‘amalan mutaqabbalan sebagaimana yang diabadikan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Alquran:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِيمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 167)
Oleh: Ust. Irsyad Rafi, Lc., M.H
(Alumni Universitas Islam Madinah, Anggota Dewan Syari’ah WI dan Dosen STIBA Makassar)