AGAR KITA LAYAK DITOLONG

Musibah sepertinya enggan beranjak dari tubuh ummat kita. Belum selesai satu musibah datang lagi musibah yang lain. Air mata duka belum  lagi kering pasca tsunami Aceh, gempa jogja, banjir sinjai, datang lagi tsunami pangandaran, gempa gorontalo, dan entah apa lagi. Semua menguras air mata.

Tapi sudahlah biarkan ia berlalu toh ia hanya musibah dunia. Biarkanlah waktu membalut luka itu. Akan tetapi, bagaimana jika yang datang musibah agama yang menikam kehormatan kita sebagai muslim. Musibah, yang oleh Rasulullah berlindung kepada Allah agar tidak melanda ummatnya. Pembantaian kaum muslimin di bumi palestina, yang terjadi dalam kurun waktu yang berulang-ulang, adalah salah satu contohnya.
Pertanyaan kita, ada apa dibalik musibah ini?, apa yang salah dalam tubuh ummat ini?, kalau kita adalah khairu Ummah tidakkah Allah menolong kita. Dua pertanyaan di atas telah banyak dijawab oleh da’i-da’i kita.

Yang akan kita soroti dalam edisi ini adalah apa syaratnya agar kita ditolong Allah dalam menghadapi semua musibah itu. Musibah dunia dan musibah agama.
Allah ta’ala berfirman: “Adalah kewajiban kami menolong orang-orang mu’min”(Qs.ar-Rum:47). Kadang ada yang bertanya, tanpa meragukan kebenaran ayat ini, kenapa pertolongan   yang disebut dalam ayat di atas belum juga datang?. Adakah syarat yang harus dipenuhi agar pertolongan itu segera datang?. Maka jawabannya adalah bahwasanya janji pertolongan dari Allah adalah pasti. Hal ini disebut dalam banyak ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah.
Berikut ini beberapa hal yang penting untuk kita perhatikan agar Allah berkenan menolong kita:

1.    Kembali ke tauhid yang murni.
Yang kita maksudkan di sini adalah setiap kita handaknya senantiasa tamassuk dengan aqidah shahihah yang bersumber dari al-Kitab dan as-Sunnah shahihah sesuai dengan pemahaman salaful ummah. Pemurnian aqidah ini adalah pekerjaan yang sangat agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. berda’wah di Makkah selama 13 tahun menanamkan tauhid ini, agar hati-hati para shahabatnya hanya tergantung kepada Allah. Pemurnian tauhid ini, adalah sebab utama datangnya pertolongan Allah. Dia berfirman: ”Allah  berjanji kepada orang-orang beriman di antara kamu dan beramal shalih, Dia bersungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan agar Dia mengokohkan bagi mereka agama yang telah diredhaiNya untuk mereka. Dan ia benar-benar akan menukar keadaan mereka setelahj mereka berada dalam ketakutan menjadi aman. Mereka tetap menyembahku dan tidak menyekutukanku dengan sesuatupun”. (Qs.an-Nur:56)
Dr. Mushthafa as-Sibai’i berkata:”… bahwa pertolongan Allah dalam banyak peperangan tidaklah ditentukan oleh banyaknya personil dan lengkapnya persenjataan, akan tetapi pada kekuatan ruh. Tentara Islam pada masa Rasulullah hanay bermodalkan kekuatan aqidah, rindu syahid, dan mengharap Allah dan surgaNya…”

2.    Mengikhlaskan niat.
Yaitu ketika seorang hamba dalam melaksanakan amal-amalnya tidak mengharapkan sesuatu kecuali wajah dan ridhaNya. Niatnya dalam seluruh aktifitasnya adalah bagaimana agar agama Allah menjadi tinggi, dan seruan orang-rang kafir menjadi hina. Sebaliknya, seruan kepada ashabiyah, popularitas, bangga dengan banyaknya personil adalah di antara sifat-sifat tercela yang membunuh orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi.
Shahabat Abu Umamah berkata:” datang seseorang  mengahadap kepada Rasulullah dan bertanya, bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang berperang mengharapkan pahala dan ingin disebut, apa yang ia dapat? Jawab Rasulullah: ia tidak mendapatkan apa-apa, beliau mengulangnya tiga kali, lalu beliau berkata sesungguhnya Allah tidak menerima sebuah amal kecuali diikhlaskan dan mengharapkan wajah Allah. Ketika pasukan kaum muslimin terlambat membebaskan mesir, maka Umar bin Khatthab berkirim surat kepada mereka. Dalam surat itu beliau berkata:”Saya heran dengan kelambatan kalian membebaskan negeri Mesir, kalian memerangi mereka sejak dua tahun lalu, semua ini disebabkan oleh apa yang kalian perbincangkan tentang dunia. Sesungguhnya Allah ta’ala tidak menolong kaum, kecuali karena kebenaran niat mereka.

3.    Meninggalkan dosa dan maksiat
Maksiat itu penghalang datangnya pertolongan dan kemenangan. Umar bin Khatthab berkata pada Sa’ad bin Abi Waqqas dalam suratnya: Amma ba’ad, saya memerintahkan anda agar bertaqwa kepada Allah dalam segala hal. Karena taqwa kepadaNya adalah sebaik-baik persiapan dalam menghadapi musuh, dan sebaik-baik strategi dalam peperangan. Dan saya memerintahkan anda dan tentara anda agar menjauhi maksiat. Karena dosa pasukan adalah pembinasa bagi mereka. Sesungguhnya kaum muslimin ditolong karena dosa-dosa musuhnya. Andai bukan itu, kita tidak akan memiliki kekuatan menghadapi mereka. Karena jumlah kita tidak sebanyak jumlah mereka…
    Dengan demikian, jika pertolongan terlambat datang, kemenangan tertunda, maka sesalilah diri yang tenggelam dalam maksiat dan dosa sembari bertobat dan melakukan perbaikan-perbaikan.

4.    Sabar.
Sabar adalah salah satu sebab yang mengundang datangnya pertolongan Allah. Karena itu hiasilah dirimu dengan sabar. Sedapat mungkin hindari keluh kesah, jangan suka mengeluhkan hal-hal yang sepele, jauhi perkara yang menyempitkan dada.
Allah ta’ala berfirman: “Janganlan bersedih dan jangan berduka kalian ditinggikan jika kalian beriman”.
Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin berkata:”janganlah engkau dirundung kelemahan dan kemalasan jika pada awal kali urusannmu belum rampung, ulangi sekali lagi dan lagi. Sabarkan dirimu dari ejekan dan cemoohan. Karena memang musuh agama ini banyak. Kesendirianmu di medan dakwah jangan membuatmu berkecil hati, sebab kau adalah jama’ah meski engkau bersendiri. Karena itu percayalah, engkau pasti ditolong di dunia atau di akhirat”.

5.Menerapkan Tarbiyah Qur’aniyah
Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah ta’ala. Isinya seluruhnya adalah tarbiyah dan taujih dariNya. Siapa saja yang tunduk dan patuh, maka ia akan mendapatkan kebagiaan. Lebih jauh ia akan ditolong pada saat-saat sulit dan dibela pada saat-saat genting. Sebaliknya, siapa saja yang membelakanginya akan mendapatkan kesumpekan hidup dan terombang ambing dalam kehidupan.
Allah berfirman:”Allah adalah wali (pelindung) orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya…”
Kalau kita membuka lembaran kehidupan salafus shalih, maka kita akan mendapati mereka seperti ayat-ayat al-Qur’an yang berjalan. Mereka tidak sekedar membaca al-Qur’an, akan tetapi setelah dibaca, ayat-ayat itu langsung mengejewantah dalam kehidupan nyata. Karena itu dalam banyak peperangan mereka senantiasa ditolong dan mendapatkan kemenangan yang gilang-gemilang. Meski jumlah mereka sedikit dan persenjataan mereka sangat sederhana.

***
Dalam banyak kondisi, kita memang terpuruk karena musibah, dianiaya oleh orang-kafir, dizalimi oleh orang-orang fajir, namun demikian kita harus tetap berbaik sangka kepada Allah. Boleh jadi, ketelatan itu karena kemaksiatan kita, atau Allah ingin menguji kita, siapa di antara hamba-hambanya yang betul-betul beriman. Dia berfirman: “Alif lam mim, apakah manusia menyangka bahwa kami biarkan mereka berkata kami beriman, padahal mereka belum diuji? Sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pun tau siapa di antara mereka yang betul-betul beriman dan dusta keimanannya”(Qs.29:1-3). Wallahu ta’ala a’laa wa-a’lam.(Buletin Al Balagh)

Sumber:
1.    Al-Qur’an dan Terjemahnya
2.    Majalah at-Tauhid Edisi VIII tahun ke 30, terbitan Ansharussunnah al-Muhammadiyah, Mesir.

Artikulli paraprakSerah Terima Jabatan Pimpinan Ma’had ‘Aly (STIBA)
Artikulli tjetërIndahnya Belum Terbayangkan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini