Masjid adalah diantara syiar Allah di muka bumi ini yang harus dimuliakan. Berikut ini adalah beberapa adab yang harus diperhatikan saat akan masuk masjid dan ketika berada di dalam masjid.

1. Mendahulukan kaki kiri ketika membuka alas kaki, sebagaimana hadits Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- riwayat Ibnu Majah dengan sanad yang Shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيُمْنَى، وَإِذَا خَلَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالْيُسْرَى

“Apabila kalian memakai sandal, mulailah dengan kaki kanan, dan jika melepas, mulailah dengan kaki kiri”.

2. Masuk masjid mendahulukan kaki kanan, sebagaimana perkataan Anas -radhiyallahu’anhu- riwayat Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi

من السنة إذا دخلت المسجد أن تبدأ برجلك اليمنى، وإذا خرجت أن تبدأ برجلك اليسرى

“Termasuk ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika anda masuk masjid, Anda mendahulukan kaki kanan dan ketika keluar Anda mendahulukan kaki kiri.”

3. Membaca do’a masuk masjid, diantara lafadz do’a masuk masjid yang Shahih adalah

بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ

Bismillah, shalawat dan salam untuk Rasulillah.

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Ya Allah, buka-kanlah pintu rahmatmu untukku.

أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, dengan wajah-Nya yang Mulia, dengan kekuasan-Nya yang langgeng, dari godaan setan yang terkutuk.

Untuk doa terakhir ini, terdapat keutamaan khusus sebagaimana hadits Abdullah bin Amr bin Ash -radhiyallahu’anhuma- riwayat Abu Daud bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk masjid, beliau membaca do’a di atas. Kemudian beliau bersabda

فَإِذَا قَالَ: ذَلِكَ قَالَ الشَّيْطَانُ: حُفِظَ مِنِّي سَائِرَ الْيَوْمِ

“Jika orang membaca doa ini maka setan berteriak, Orang ini dilindungi dariku sepanjang hari.”

4. Shalat tahiyatul masjid jika memungkinkan dan shalat sunnah atau fardhu bisa mewakilinya, sebagaimana hadits Abu Qatadah yang Muttafaqun ‘alaihi, Rasulullah ﷺ bersabda :

فَإِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ، فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ

“Apabila kalian masuk masjid, jangan duduk, sampai shalat dua rakaat.”

Sunnah ini tidak gugur walaupun lama berdiri dalam masjid misalnya menjawab adzan, adapun jika sempat duduk maka gugur jika sengaja dan tidak gugur jika lupa.

5. Memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah untuk memperbanyak do’a, sebagaimana hadits Anas -radhiyallahu’anhu- riwayat Ahmad dengan sanad yang Shahih, Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ، فَادْعُوْا

“Sesungguhnya do’a (yang dipanjatkan) di antara adzan dan iqamat tidak akan pernah ditolak, karena itu berdo’alah”.

6. Menjaga kebersihan masjid, sebagaimana hadits Aisyah -radhiyallahu’anha- riwayat At-Tirmidzi dengan sanad yang Shahih :

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبِنَاءِ المَسَاجِدِ فِي الدُّورِ، وَأَنْ تُنَظَّفَ، وَتُطَيَّبَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan membangun masjid di perkampungan, juga menjaga kebersihan dan memberikannya wewangian”.

Dalam hadits Anas -radhiyallahu’anhu- riwayat Ibnu Majah dengan sanad yang Shahih diceritakan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، رَأَى نُخَامَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ، فَغَضِبَ حَتَّى احْمَرَّ وَجْهُهُ، فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنَ الْأَنْصَارِ فَحَكَّتْهَا، وَجَعَلَتْ مَكَانَهَا خَلُوقًا ” فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا أَحْسَنَ هَذَا”

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dahak di kiblat masjid hingga beliau marah dan memerah wajahnya.

Kemudian datanglah seorang wanita Anshar kepada beliau seraya mengerik dan memberi wewangian pada bekasnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: “Alangkah bagusnya ini”.

7. Tidak mengumumkan barang yang hilang di masjid karena masjid tidak dibangun untuk itu, sebagaimana hadits Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي الْمَسْجِدِفَلْيَقُلْ لَا رَدَّهَا اللهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا

Barangsiapa yang mendengar seseorang mengumumkan barang hilang di masjid, hendaklah dia mendoakan, “Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu”, karena masjid bukan dibangun untuk ini.

8. Tidak berjual-beli dalam masjid, sebagaimana hadits Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- riwayat At-Tirmidzi dengan sanad yang Shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي المَسْجِدِ، فَقُولُوا: لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ

Jika kalian melihat orang yang berjual beli dalam masjid maka ucapkanlah “Semoga Allah tidak memberikan laba dalam perdaganganmu”.

*Larangan ini mencakup semua jenis jual beli seperti sewa menyewa, pesanan dll.
*Ruangan lainnya yang bersambung dengan masjid dan masih digunakan untuk shalat, maka termasuk hukum masjid. Adapun ruangan yang memiliki fungsi khusus seperti kamar imam atau kantor maka tidak termasuk hukum masjid.

9. Tidak bersyair atau perkataan lainnya yang maknanya tidak baik dalam masjid, jika maknanya baik maka boleh, sebagaimana Hassan bin As-Saa’ib -radhiyallahu’anhu- pernah bersyair di masjid dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkannya.

10. Tidak mengangkat suara dalam masjid, sebagaimana hadits Ka’ab bin Malik -radhiyallahu’anhu- yang Muttafaqun ‘Alaihi :

أَنَّهُ تَقَاضَى ابْنَ أَبِي حَدْرَدٍ دَيْنًا كَانَ لَهُ عَلَيْهِ فِي المَسْجِدِ، فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا حَتَّى سَمِعَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي بَيْتِهِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِمَا حَتَّى كَشَفَ سِجْفَ حُجْرَتِهِ، فَنَادَى: «يَا كَعْبُ» قَالَ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «ضَعْ مِنْ دَيْنِكَ هَذَا» وَأَوْمَأَ إِلَيْهِ: أَيِ الشَّطْرَ، قَالَ: لَقَدْ فَعَلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «قُمْ فَاقْضِهِ»

Bahwa ia pernah menagih hutang kepada Ibnu Abu Hadrad di dalam Masjid hingga suara keduanya meninggi yang akhirnya didengar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di rumah. Beliau kemudian keluar menemui keduanya sambil menyingkap kain gorden kamarnya, beliau bersabda: “Wahai Ka’ab!” Ka’ab bin Malik menjawab: “Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu.” Beliau bersabda: “Bebaskanlah hutangmu ini.” Beliau lalu memberi isyarat untuk membebaskan setengahnya. Ka’b bin Malik menjawab, “Sudah aku lakukan wahai Rasulullah.” Beliau lalu bersabda (kepada Ibnu Abu Hadrad): “Sekarang bayarlah”.

11. Duduk menunggu shalat dan memperbanyak dzikir, sebagaimana Hadits Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَحَدُكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فِيْ صَلاَةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَدْعُوْ لَهُ الْمَلاَئِكَةُ :اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ.”

Tidaklah seseorang di antara kalian duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, melainkan para Malaikat akan mendo’akannya: “Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia”.
Dalam hadits lainnya :

لاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِيْ صَلاَةٍ مَا دَامَ فِيْ مُصَلاَّهُ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ.

“Senantiasa salah seorang di antara kalian mendapatkan pahala shalat selama ia berada di masjid tempat ia shalat untuk menunggu shalat”.

12. Boleh ngobrol urusan dunia di masjid walaupun mengakibatkan tawa dengan syarat; selama masih dalam perkara yang halal, tidak menjadikannya kebiasaan, tidak mengganggu orang shalat atau membaca Al-Qur’an, dan ngobrolnya tidak lama, sebagaimana hadits Simak bin Harb riwayat Muslim :

قُلْتُ لِجَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ: أَكُنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: نَعَمْ كَثِيرًا، “كَانَ لَا يَقُومُ مِنْ مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ الصُّبْحَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، فَإِذَا طَلَعَتْ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ، فَيَأْخُذُونَ فِي أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku berkata kepada Jabir bin Samurah -radhiyallahu’anhu- “Apakah engkau pernah duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Jabir menjawab “Iya sering, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak berdiri dari tempat shalatnya setelah shalat Shubuh sebelum matahari terbit, jika matahari telah terbit, beliau bangkit, saat itu mereka (para sahabat) sedang berbincang-bincang tentang masa jahiliah mereka tertawa dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum”.

13. Keluar Masjid Dengan Mendahulukan Kaki Kiri Dan Membaca Doa, sebagaimana Abu Usaid -radhiyallahu’anhu-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

Apabila keluar masjid hendaknya dia mengucapkan, “Allahumma inni as aluka min fadhlika (Ya Allah, aku meminta karuniaMu)”.
[]

Oleh: Ustadz Ayyub Soebandi, Lc. (Dosen STIBA Makassar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here