Palestinian-state

Hikmah adalah aset orang mukmin yang tercecer. Di mana pun ia menemukannya,maka ialah yang paling berhak memilikinya”

Palestina kini lebih dari sekedar negeri terjajah, di sana telah menjadi penjara terluas tanpa atap, di mana setiap penduduk yang hidup di dalamnya rentan dari sasaran rudal-rudal Israel. Setiap lini perbatasannya dipagari tembok, kawat berduri dan serdadu-serdadu Israel yang kejam bersenjata lengkap. Segala bentuk blokade diterapkan di wilayah yang tinggal 10% dari wilayah aslinya. Palestina kini secara internal tercabik oleh benturan ideologis yang meruntuhkan keutuhan perlawanan menghadapi penjajah Israel, perbedaan pandangan dalam menyikapi keberadaan Israel menjadi titik awal kelemahan untuk melakukan bargaining politik dan militer dengan Israel. Menengok ke belakang dan mengenang kebiadaban Israel laknatullah`alaih dalam perang di awal ramadhan ini adalah bukti real telah terbentuknya suatu penjara yang sangat melanggar HAM dimana orang-orang yang berdiam di dalamnya hanya menunggu kapan daftar panggil pelaksanaan hukuman matinya. Sumber-sumber dari medis Palestina menyebutkan jumlah korban warga Palestina di Jalur Gaza telah melampaui 85 orang dan yang lainnya ederita luka-luka.

Hingga detik ini, palestina memang negeri terjajah dengat sekelumit derita. Negeri yang dihantui dengan perang tiada henti, menjadikan krisis kemanusian di setiap sudut negeri . Namun tidak banyak yang tahu bahwa ternyata ada yang berbeda di Palestina. Orang bijak berkata, selalu ada cerita berbeda di setiap peristiwa, maka begitu pula dengan Palestina. Meski Palestina adalah negeri yang berisi beribu derita, ternyata termaktup beribu keajaiban Tuhan yang menyertainya. Apakah itu? Simak yang satu ini. Betapa engkau akan berkata ALLAHU AKBAR..ALLAH MAHA BESAR!

TAHFIDZ BOCAH

Terus berlangsungnya penistaan dari orang-orang kafir dan salibis terhadap Al-Qur’an dan Sunah Nabi. selama konflik Islam-Yahudi telah menggerakkak hati kaum muslimin di Palestina, mengencerkan otak-otak mereka, memperluas cakrawala berpikir mereka. Sebagaimana kata pepatah bahwa pelaut yang ulung tidak akan hadirdi laut yang tenang. Kini telah hadir ide brilian bahwa penistaan semacam ini harus dilawan dengan cara membuat program yang dinamakan “Tajul Waqar (Mahkota Ketegaran)” untuk mencetak para penghafal Al-Qur’an dan pemegang teguh manhaj Allah ta’ala. Program unik dan pioner langkah di dunia Islam dan Arab ini, termasuk bentuk reaksi atas perang yang dilancarkan oleh penjajah dan sekutunya dalam merusak moral generasi muda serta penghancuran terhadap masjid dan markas-markas penghafal Al-Qur’an milik Darul Qur’an dan As Sunnah.

Palestina ,walaupun dalam keadaan terjajah dan porak-poranda akibat perang, namun ada yang berbeda di Palestina. Ada yang patut kita tiru dari mereka yang masih mampu menempatkan pendidikan sebagai unggulan. Sebagai contoh beberapa tahun yang lalu, seusai Ramadan 1429 H, Kholid Misyal, pucuk pimpinan Hamas saat itu, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang hafidz Alqur’an. Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alqur’an ini menjadi sumber ketakutan Zionist-Israel. “Jika dalam usia semuda itu sudah menguasai Alqur’an, bayangkan 20 tahun yang akan datang mereka akan menjadi seperti apa?” demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel malah menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan Alqur’an. Kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal Alqur’an. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar ratusan bocah penghafal Alqur’an itu telah syahid; dibantai, tapa diberi kesempatan hidup, tanpa memandang bahwa mereka hanyalah bocah Palestina yang yang tak mungkin punya daya untuk melawan.

Sebagimana yang diberitakan di Hidayatulllah, bahwa Menuju pembentukan generasi Qur’ani, Darul Qur’anul Karim dan as Sunnah, sejak beberapa tahun yang lalu, di Jalur Gaza telah menyelenggarakan camping bertajuk “Tajul Waqar (Mahkota Ketegaran)” dengan tujuan mencetak 10 ribu hafidz dan hafidzoh Al-Qur’an selama 60 hari. Dr. Abdurrahman al Jamal, Ketua lembaga ini mengatakan bahwa penyelenggaraan program ini dilaksanakan pada saat liburan sekolah di musim kemarau. Dengan tujuan menggunakan masa liburan ini untuk membentuk generasi Qur’ani yang siap dan mampu bertanggungjawab membebaskan tanah air dan kewajiban berdakwah di jalan Allah ta’ala. Program “mahkota ketegaran” ini adalah program lanjutan untuk tahfidzul Qur’an yang digalang lembaga Darul Qur’an dan as Sunnah selama ini.

Untuk menyukseskan program ini, diberdayakan 1100 ustadz dan mutabi’ (pemantau) untuk disebar ke penjuru Jalur Gaza membina generasi Qur’an.
Penyelenggara program menegaskan bahwa
Darul Qur’an dan As Sunnah memilih konsen dalam bidang ini agar siapa saja yang melihat Gaza paham bahwa penduduk Gaza telah memikul qalam Allah azzawajallah dan dididik di atas meja-meja Al-Qur’an serta berperilaku dengan perilaku Al-Qur’an sehingga dapat membentuk bocah-bocah yang berakhlak Al Qur`an.

Mari kita bertanya dalam sanubari kita, ide brilian apakah yang telah kita usulkan, ide brilian apa yang telah diproduksi oleh buah piker kita? Kita hidup di negeri yang aman, damai, tentram, tiada penindasan, dihargainya perbedaan, adanya kebebasan berkreasi, tiada larangan bertarbiyah, adzan dapat berkumandang silih berganti, tiada larangn untuk berkumpul dalam majelis ilmu, namun tak dapat dinafikan, diri-diri ini masih miskin kreatifitas. Hari libur berlalu dengan sia-sia, hingga kemudian bergantilah dari suatu hari libur beranjak menuju masa sibuk berikutnya dengan tanpa bekas yang dapat member makna.

TIADA KATA AKHIR UNTUK TARBIYAH

Ada cerita berbeda di Palestinaku. Cerita yang merupakan realita yang jarang diekspos media bahwa di balik kemampuan hamas untuk bertahan setelah sekian puluh tahun dijajah dengan tetap eksis memperjuangkan agama Allah, adalah suatu metode klasik, terbukti ampuh, dan sesuai denagan sunnah Nabi Muhammad sallalahu `alaihi wasallam yang berhasil mencetak kader-kader yang menjadi generasi-generasi terbaik (para sahabat) hingga kemudian meghasilkan generasi terbaik yang baru (Para tabi`in) dimana selanjutnya para generasi tersebut menghasilkan generasi terbaik berikutnya (para tabi` tabi`in). Sebuah metode yang bernama “TARBIYAH” menjadi roda penggerak perjuangan hamas di bumi Al Qudss. TARBIYAH merupakan media mengimput ilmu yang sangat efektif bagi para pemuda-pemuda Palestina sebagai bagian pengaktualisasian sunnah Nabi sallallhu `alaihi wasallam agar mampu membentuk generasi-genersi Rabbani.

Jika diamati, dalam mentarbiyah kader dan anggotanya, membentuk kepribadiannya dalam berorganisasi dan pola pikir (ikhwa dan akhwat) gerakan Hamas berusaha mendidik generasi Qurani dan Nabawi yang unik. Mereka disiapkan untuk menjadi elemen dasar yang orsinil dalam bangunan proyeksi kemenangan mendatang bagi Islam agung dengan izin Allah azza wajallah.

Setelah perjalanan panjang tarbiyah, dakwah, pembangunan, organisasi, dan jihad, Hamas hari ini memiliki poin tarbiyah bermuatan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dikelola dalam mendidik dan membina kader-kadernya. Hal itu menciptakan gelombang generasi yang kuat yang mampu membangun organisasi yang kuat dan solid berdasarkan kecintaan, persaudaraan, orsinilitas, jauh dari spontanitas dan hal yang tanpa perasaan.

Hamas berusaha membentuk dan memformulasi masyarakat Muslim yang bisa menjaga harga diri (iffah), bersih, dan peka dari praktik manipulasi dan mudah hanyut, membentengi diri sikap koalisi dengan musuh atau menjadi agensi mereka dan tindakan moral rendahan, imun terhadap upaya penumpulan perasaan dan kepekaan terhadap rasa tanggung jawab terhadap masalah nasional kebangsaan, rakyat dan masalanya. Konsentrasi pembinaan dakwah Hamas adalah pemenuhan (respon) fitrah terhadap panggilan Allah; “dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105)

Ketika fajar terbitnya, Hamas telah mempelajari realitas dan watak-watak fase yang akan dilaluinya. Ia kemudian meletakkan manhaj yang diserap dari kitab Allah subehanawata`ala dan Sunnah Nabinya serta buku-buku keimaman yang dipenuhi dengan eksperimen ulama. Hamas maju dengan percaya diri berusaha menanamkan Islam dalam sanubari kadernya semampu yang mereka bisa dan selagi ada jalan. Itulah penyebab Hamas memperoleh massa di kalangan kaum muda yang berkualitas dan berkuantitas sebagai mukmin yang percaya dan yakin akan kebenaran manhaj dan realitas pergerakan.

Warisan keimanan, pemikiran jernih bersinar, ilmu syar’i, keunikan dalam tarbiyah da`i berdasarkan Al-Quran, Sunnah,  hadits, syariat, ilmu-ilmu modern, ragam kerja kelembagaan, semuanya mampu menarik simpati pemuda kepada Hamas yang bukan hanya menghafal Al-Quran, hadits, shalat malam, puasa di siang hari, bukan hanya itu, namun Hamas memiliki potensi manusia (SDM) beragam, kader yang Ilmu pengetahuan berbeda-beda dalam ilmu sosial, politik, budaya dan militer. Sehingga mampu berada di depan dan mampu memberikan sumbangsih keterbukaan politik yang lentur dan didasarkan pada batasan-batasan syariat dan agama.

Sesungguhnya tarbiyah Hamas berawal dari masjid karena mereka ingin mereformasi kehidupan Palestina dengan cara yang benar. Hamas membangun pondasinya di samping mihrab dan mengajarkan anak-anaknya memahami fiqih realitas dan fiqih amal di atas sajadah shalat. Tarbiyah Hamas memberikan kebebasan bergerak, berinovasi, dan berkreasi dengan tetap komitmen dan disiplin terhadap prinsip. Tarbiyah Hamas menjaga keseimbangan dan konperhensif serta memperdalam spesialis. Hamas tidak mengalahkan politik atas ibadah, tidak mengalah pemerintahan atas perlawanan. Hamas mengkompromikan kerja sosial, politik, agama dan perlawanan sampai pada urusan olah raga dan seni.   Tarbiyah Hamas didasarkan kepada kejujuran, loyalitas, kesetiaan kepada baiat dengan pemahaman dan keyakinan tidak ada taklid buta. Namun menyeimbangkan antara jundiyah (kader) dan qiyadah (pimpinan). Hamas tenang tapi kadang bergelora menantang dengan tetap terukur. Pengalaman mengajarkan kepada Hamas untuk menahan emosi, sehingga tidak ngawur dan terburu-buru. Di tengah ujian berat, tekanan dalam dan luar negeri, Hamas hari ini masuk tetap konsisten dengan slogan “tidak ada solusi kecuali Islam”.

Hamas, hidup dalam perang, namun mampu membangun kader-kader yang siap syahid demi ad dien. Dakwah dan tarbiyah merupakan satu-satunya jalan untuk mengembalikan pemahaman manusia kepada sirathol mustaqim. itulah jalan yang dicontohkan oleh Rasulullah sallallhu `alaihi wasallam untuk menciptakan kader-kader yang berkompeten. Lalu mari kita tengok diri-diri kita, mengapa hingga saat ini kita masih malas untuk menghadiri halaqah tarbiyah kita? Mengapa ta`lim di mesjid-mesjid masih lebih banyak ubin yang tidak terdududki dari pada yang terisi? Mengapa sampai saat ini kita masih saja ragu dengan keefektifan metode tarbiyah sedangkan di sisi belalakang dan depan cakrawala berpikir kita telah terpampang bukti kongkret sukses pelaksanaan tarbiyah? di belakang ada bukti keberhasilan tarbiyah Nabi Muhammad sallallahu `alaihi wasallam dan di depan ada bukti keberhasilan tarbiyah hamas. Saudaraku, tarbiyah di Gaza kadang berhidangkan senjata namun tarbiyah di Indonesia kadang berhidangkan kue? Tidak kah semua itu cukup sebagai obat kemalasan kita wahai, kaum muslimin?

MATI SATU TUMBUH SERIBU

Di awal ramadhan 1435 hijriah ini, korban tewas telah mendekati angka 100 orang dan ratusan orang lainnya luka-luka akibat perang kurang lebih selama tiga hari; serangan membabi buta para pasukan zionis. Namun tahukah engkau wahai saudaraku, ada yang berbeda di Palestina. Israel yang faktanya terus menerus membantai rakyat Palestina hingga detik ini, namun jumlah penduduknya justru naik tujuh kali lipat. Sebagaimana diberitakan Kantor Berita AFP, Pusat Riset Israel Urusan Baitul Maqdis dalam sebuah kajiannya yang telah dirilis, menyatakan bahwa jumlah penduduk Palestina di Baitul Maqdis meningkat tiga persen dari jumlah sebelumnya, sedangkan jumlah penduduk Zionis di Baitul Maqdis hanya meningkat satu persen dibanding tahun sebelumnya. Lebih lanjut, Pusat Riset Zionis menyebutkan, penduduk Palestina di Baitul Maqdis terdiri dari 35 persen dari seluruh populasi di wilayah ini. Terkait hal ini, Kantor Pusat Sensus Palestina baru-baru ini menyebutkan peningkatan jumlah penduduk Palestina dan menyebutkan, jumlah Palestina yang pada awalnya berjumlah 1,4 juta orang pada tahun 1948 meningkat menjadi 11,8 juta di penghujung 2013. Dengan demikian kenaikannya mencapai tujuh kali lipat. ALLAHU AKBAR….

Wahai saudaraku, ini tentu berada di luar rasio kita. Normalnya, keberadaan perang yang berkepanjangan di bumi Al Quds akan berdampak pada penurunan populasi penduduk di daerah itu, demikian ilmu demografi menilainya. Namun kini, ada yang berbeda di Palestina. Allah Azzawajallah memperlihatkan kebesarannya. Satu bocah hafidz terbunuh, maka akan tumbuh seribu bocah hafidz-hafidzoh yang baru. Satu mujahid syahid, maka akan tumbuh seribu mujahid-mujahidah yang baru ALLAHUAKBAR…..Mati satu, tumbuh seribu!

Palestina memang berbeda. Negeri yang dibalut derita, namun mampu ribuan hafidz,mampu meningkatkan produksi mujahid dan mampu menjaga nilai-nilai tarbawiyah dalam sendi-sendi kehidupan mereka. Semoga menginspirasi. Wassalam.

*Oleh Andi Muh.AKhyar, S.Pd, Mahasiswa Program Pascasarjana Ilmu Fisika UGM, Pembina Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI),

Dibilik perjuangan, Sabtu 12 Juli 2014, pukul 10.18 WITA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here