Dia tetap tegar bak sebongkah batu karang di tengah lautan luas. Meski dihempas oleh ribuan ombak yang menerjang dengan ganasnya, dia tetap tak bergeming. Aneh memang, padahal dia tak lebih hanya seorang yang rendah. Lantas apa yang membuatnya bisa tetap tegar?

Pernah kumendengar, kalau seseorang sudah yakin pada sebuah hal, maka takkan ada yang dapat menggoyahkannya lagi. Itu karena tingginya kepercayaan yang dimiliki hingga segalanya menjadi remeh dihadapannya.

Dia memang dianggap remeh, namun sebenarnya cukup dikenal karena sikap baik dan kejujurannya kepada siapapun. Semua orang tahu bahwa dia datang dari Negeri Roma, negeri adidaya saat itu. Namun sejatinya dia adalah anak dari seorang yang dahulunya merupakan walikota dan hakim dari kota Ninawa, salah satu kota Al Maushil yang dikuasai oleh Bangsa Persia. Suatu ketika kota itu didatangi sekompi pasukan Romawi dan berhasil memperbudak banyak orang dari penduduk kota Ninawa, dianataranya adalah orang tersebut.

Awal kisahnya di kota itu tak terlalu menarik, ia adalah seorang budak yang dijual dengan harga murah. Berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya, dari kota ke kota ia akhirnya dijual pada salah seorang penduduk kota yang bernama Abdullah ibn Jud’an Al qurasy. Karena sikap baik juga kecerdasannya, maka pemiliknya memerdekakannya dan memberi kebebasan baginya. Berhasil menghirup udara kebebasan saja ternyata tak cukup, ia mulai mencari kerja kesana kemari hingga tidak dengan waktu yang lama ia berhasil mengumpulkan harta yang melimpah. Kemudian semuanya berubah disebabkan oleh pengaruh kata-kata yang didengarnya dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tadinya tak ada yang menaruh perhatian padanya, namun karena keyakinan baru yang dianutnya, semua orang menjadi sebal padanya.

Dia termasuk mereka yang pertama kali percaya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan termasuk dalam golongan yang mendapatkan dakwah beliau pada masa sembunyi-sembunyi di darul arqam. Namun setiap rahasia ada batasnya, orang-orang kota segera tahu kalau dia telah menyatakan keluar dari agama penduduk mereka dan beralih kepada agama fitrah dan selamat.

Pantas saja para penduduk menjadi beram padanya, tak tanggung-tanggung mereka menyiksa dan mengadzabnya sejadi-jadinya. Tak kenal siang dan malam, orang ini bahkan dihinakan lebih daripada hewan tunggangan. Sungguh perlakuan yang amat buruk.

Seiring berjalannya waktu, Allah ta’ala mulai memenangkan sedikit demi sedikit ajaran yang diwahyukanNya kepada Sang Utusan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mulai dari hijrahnya orang-orang yang beriman kepadanya ke Negeri Habasyah, bukti kekuasaan Allah dengan musnahnya kertas janji pemboikotan terhadap kabilah baginda Rasul, suksesnya dakwah pada musim haji yang bermula pada baiat kepada beberapa orang penduduk yatsrib, hingga peristiwa hijrahnya kaum muslimin ke kota yatsrib. Semuanya atas kehendak dan hikmah Allah subhanahu wa ta’ala.

Namun sayang, ibadah hijrah yang mulia ini tak bisa dirasakan oleh seluruh orang yang telah beriman dari penduduk kota ini. Ada diantara mereka yang harus tertahan dan tak bisa melaksanakan hijrah. Diantara mereka adalah orang yang sedang saya kisahkan ini, Suhaib ibn Sinan Ar rumy radhiyallahu anhu, pemilik semangat dan tekad yang kuat serta ketangguhan dalam urusan panah-memanah. Beliau harus mendekam di tempat tinggalnya di kota Mekkah karena orang-orang kafir quraiys telah menyewa beberapa penjaga untuk terus menjaganya agar tak kabur ke kota yatsrib.

Sungguh malang nasibnya. Ibadah hijrah yang mulia ini sudah ada di depan mata, namun terhalang oleh perbuatan musuh-musuh Allah. Setiap tindak tanduknya selalu diawasi, tak ada kesempatan melainkan para penjaga ini selalu mengikuti dan menjaganya.

Hingga di suatu malam yang sunyi. Ketika kerinduannya kepada baginda Rasul sudah membuncah tak tertahankan, kerinduan yang selama ini dipendamnya di dalam hati. Kerinduan untuk berjumpa kembali dengan manusia terindah dan termulia sejagat raya, kerinduan yang sebabnya karena kecintaan pada Allah dan RasulNya. Ia berpikir untuk melakukan siasat dan tipuan, bangkitlah ia dari tempat tidurnya untuk kemudian bertingkah seakan hendak ke kamar kecil. Melihat tingkahnya, para penjaga bergegas mengikutinya kemana dia pergi. Setelah berada di dalam kamar mandi, dia berlagak seakan sedang menyelesaikan hajatnya. Setelah selesai, diapun kembali ke tempat tidurnya dan kembali tidur, hingga para penjaga juga kembali ke tempat mereka. Tidak berapa lama dia kemudian bangkit kembali dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, dia kemudian diikuti oleh para penjaga yang terus siap siaga mengawasinya. Setelah selesai dari hajatnya dia kembali tidur. Sampai empat kali dia melakukan hal yang sama, para penjaga itu masih setia mengikutinya.

Hingga pada kali kelima Suhaib melakukan hal yang sama, salah seorang penjaga berkata kepada yang lainnya “Sesungguhnya Lata Tuhan kita telah memberinya balasan yang setimpal, lihatlah dia sekarang sudah berapa kali keluar masuk kamar mandi, kalau demikian tidak usah kita mengikutinya”, mendengar pendapat ini semua penjaga merasa pongah hingga enggan untuk mengawasi Suhaib yang sedang terkena karma dari tuhan mereka katanya.

Suhaib yang merasa bahwa tipuannya telah berhasil mengelabui para penjaga tak ingin lekas beranjak dari tempatnya. Diulanginya lagi perbuatan itu beberapa kali sampai setelah kali yang kesembilan, dia sudah merasa bahwa para penjaga telah benar-benar teledor atas tugas mereka dan termakan tipu muslihat yang dilakukannya. Kali kesembilan itu, ia tak lagi ke kamar mandi, ia segera bergegas meninggalkan kota Mekkah menuju Yatsrib atau yang dikenal dengan sebutan Al Madinah An Nabawiyyah.

Tak terlalu lama sebenarnya, para penjaga mulai gelisah karena tak melihat Suhaib segera kembali dari kamar mandi. Mereka segera memeriksa kabarnya dan didapatinya kamar mandi itu telah kosong…celaka !!! Sungguh Suhaib telah merencanakannya dan berhasil mengelabui kita ujar salah seorang dari mereka. Dengan memacu lari kuda, mereka berhasil mengejar Suhaib yang saat itu telah berada diatas sebuah bukit perbatasan kota Mekkah. Suhaib tak tinggal diam, disediakannya beberapa anak panah seperti dengan jumlah para penjaga yang mengejarnya dan telah menyiapkan satu buah panah yang siap dilesakkan ke arah mereka sembari berteriak “Hai kalian, kalian mengetahui bahwa saya adalah orang yang paling handal dalam urusan panah-memanah. Tidaklah seseorang dari kalian yang datang mendekat kemari melainkan di dadanya pasti sudah tertancap anak panah yang saya miliki ini”, mendengar perkataan tegasnya, para penjaga rupanya sedikit gentar. Mereka berkata “Lantas apa keinginanmu hai Suhaib?”, Suhaib kemudian membalas “Demi Allah, sesungguhnya saya memiliki kumpulan harta di rumah saya di Mekkah datang dan ambillah, saya juga punya perhiasan yang dipegang oleh fulanah ambillah, fulan juga berhutang kepada saya maka ambillah, sampai Suhaib menyebutkan semua harta yang telah dikumpulnya lewat usaha siang dan malam lalu berkata “kembalilah kalian ke Mekkah, ambil semua harta itu dan biarkan saya melanjutkan perjalanan menuju madinah”. Para penjaga mengatakan “Demi Allah, ini adalah perniagaan yang baik. Kalau begitu kami sepakat”.

Subhanallah,,,sahabat…perniagaan yang sesungguhnya bukan kepada orang-orang kafir para penjaga tersebut. Perniagaan sesungguhnya adalah perniagaan Suhaib kepada Allah Robbul Alamin.

Sesampainya di madinah, Suhaib kemudian disambut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang saat itu sedang berada di masjid. Beliau lantas keluar dan bersabda :

“Abu yahya, sungguh beruntung perniagaanmu”

“Abu yahya, sungguh beruntung perniagaanmu”

“Abu yahya, sungguh beruntung perniagaanmu”

Rupanya Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan wahyuNya dalam surah Al baqarah ayat 207 mengabarkan kepada beliau tentang kisah Suhaib yang telah mengorbankan semua harta miliknya yang melimpah ruah di Mekkah dengan tujuan untuk mengikuti jejak kaum muslimin yang lainnya, berhijrah ke kota Madinah. Keinginan yang lahir dari iman yang kuat, meninggalkan harta dan tempat tinggalnya, lalu kemudian menjadi terasing kembali di kota yang baru didatanginya…namun itu semua terbayar bilamana ia berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sanggup mengerjakan kewajiban dengan tenang, dan yang terpenting adalah menggapai keridhoan Ilahi.

Allah berfirman :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Artinya : Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.[1]

Perniagaan yang paling menguntungkan, dan takkan mengalami kerugian adalah perniagaan kepada Allah. Juallah nyawa, harta dan segalanya kepada Allah untuk mendapatkan perbendaharaan Allah yang mulia berupa syurga yang luasnya seluas langit dan bumi. Bersegeralah, karena waktu tak menunggu anda. Sebagaimana Suhaib telah mengorbankan seluruh harta miliknya dan telah mendapatkan kemuliaan yang sangat tinggi di dunia(apalagi di akhirat kelak) yaitu sebuah ayat alquran yang turun dari langit ke tujuh menceritakan perihalnya yang akan dibaca hingga hari kiamat kelak. Sungguh kemuliaan yang tak tertandingi bagi pemilik jiwa dan tekad yang mulia pula. Maka apa lagi yang anda tunggu?

[1] Surah Al baqarah 207

Oleh : Abu Aqilah Althofunnisa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here