ABDURRAHMAN BIN AUF
Apa sebabnya Anda Menangis, Hai Abu Muhammad

Ia masuk Islam di saat-saat permulaan da’wah, yakni sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki rumah Arqam untuk menjadikannya sebagai tempat pertemuan dengan para shahabatnya orang-orang Mu’min. Dia adalah salah seorang dari delapan orang yang dahulu masuk Islam, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu datang kepadanya menyampaikan Islam, begitu juga kepada Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, Thalhah bin Ubedillah radhiyallahu ‘anhu, dan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.

semenjak keislamannya sampai berpulang menemui Tuhannya dalam umur tujuh puluh lima tahun, ia menjadi teladan yang cemerlang sebagai seorang Mu’min yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . memasukkannya dalam sepuluh orang Yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga. Dan Umar radhiyallahu ‘anhu  mengangkatnya pula sebagai anggota kelompok musyawarah yang berenam yang merupakan calon khalifah yang akan dipilih sebagai penggantinya, seraya katanya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  wafat dalam keadaan ridha kepada mereka!”.                                                            

Sewaktu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, memerintahkan para shahabatnya hijrah ke Habasyah, Ibnu ‘Auf ikut berhijrah kemudian kembali lagi ke Mekah, lalu hijrah untuk kedua kalinya ke Habasyah dan kemudian hijrah ke Madinah. Ia pun ikut bertempur di perang Badar, Uhud dan peperangan-peperangan lainnya. Keberuntungannya dalam perniagaan sampai suatu batas yang membangkitkan ketakjuban dan keheranan, hingga katanya: “Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak……!” Perniagaan bagi Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu  bukan berarti menumpuk harta atau hidup mewah. Malah itu adalah suatu amal dan tugas kewajiban yang keberhasilannya akan menambah dekatnya jiwa kepada Allah shubhaana wa ta’ala dan berkorban di jalan-Nya.

Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu  seorang yang berwatak dinamis, kecintaannya terhadap amal sholeh sangat besar. Apabila ia tidak sedang shalat di mesjid, dan tidak sedang berjihad  dalam  mempertahankan  Agama  tentulah  ia  sedang mengurus perniagaannya yang berkembang pesat, kafilah-kafilahnya membawa ke Madinah dari Mesir dan Syria barang-barang muatan yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh jazirah Arab berupa pakaian dan makanan. Dan watak dinamisnya ini terlihat sangat menonjol, ketika Kaum Muslimin hijrah ke Madinah. Telah menjadi kebiasaan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pada  waktu itu  untuk mempersaudarakan dua orang shahabat, salah seorang dari muhajirin warga Mekah dan yang lain dari Anshar penduduk Madinah. Ketika itu Rasul yang mulia mempersaudarakan antara Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu dengan Sa’ad bin Rabi’ radhiyallahu ‘anhu.“ … dan berkatalah Sa’ad kepada Abdurrahman: “Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silakan pilih  separoh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian anda, akan kuceraikan ia hingga anda dapat memperistrinya……! Jawab Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu:  “Moga-moga Allah memberkahi anda, istri dan harta anda ! Tunjukkanlah letaknya pasar agar aku dapat berniaga….!Abdurrahman pergi ke pasar, dan berjual belilah di sana, ia pun beroleh keuntungan! Kehidupan Abdurrahman bin ‘Auf di Madinah, baik semasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun sesudah wafatnya terus meningkat. Barang apa saja yang ia pegang dan dijadikannya pokok perniagaan pasti menguntungkannya. Seluruh usahanya ini ditujukan untuk mencapai ridha Allah shubhaana wa ta’ala semata, sebagai bekal di alam baqa kelak. Yang menjadikan perniagaannya berhasil dan beroleh berkah adalah karena ia selalu bermodal dan berniaga barang yang halal dan menjauhkan diri dari perbuatan haram bahkan yang  syubhat, karena labanya bukan untuk Abdurrahman sendiri, tapi di dalamnya terdapat bagian Allah shubhaana wa ta’ala yang ia penuhi dengan setepat-tepatnya dan digunakannya untuk memperkokoh hubungan  kekeluargaan, membiayai sanak saudaranya, serta menyediakan perlengkapan yang diperlukan kaum muslimin.

Di suatu hari ia menjual tanah seharga 40 ribu dinar, kemudian uang itu dibagi-bagikannya semua untuk keluarganya dari Bani Zuhrah, untuk para isteri Nabi dan untuk kaum fakir miskin. Diserahkannya pada suatu hari limaratus ekor kuda untuk perlengkapan balatentara Islam …dan di hari yang lain seribu limaratus kendaraan. Menjelang wafatnya ia berwasiat lima puluh ribu dinar untuk jalan Allah, lain diwasiatkannya pula bagi setiap orang yang ikut perang Badar dan masih hidup, masing-masing empat ratus dinar, hingga Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu yang terbilang kaya juga mengambil bagiannya dari wasiat itu, serta katanya: “Harta Abdurrahman bin ‘Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan berkah”.Ibnu ‘Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya, bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya. Sebagai buktinya, ia tidak mau celaka dengan mengumpulkannya dan tidak pula dengan menyimpannya,  bahkan ia mengumpulkannya secara santai dan dari jalan yang halal kemudian ia tidak menikmati sendirian tapi ikut menikmatinya bersama keluarga dan kaum kerabatnya serta saudara-saudaranya dan masyarakat seluruhnya. Dan karena begitu luas pemberian serta pertolongannya, pernah dikatakan orang: “Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin ‘Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya kepada mereka, sepertiga lagi dipergunakannya untuk membayar hutang-hutang mereka. Dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi-bagikannya kepada mereka”. Harta kekayaan ini tidak akan mendatangkan kelegaan dan kesenangan pada dirinya, selama tidak memungkinkannya untuk membela Agama dan membantu kawan-kawannya. Adapun untuk lainnya, ia selalu takut dan ragu.

Pada suatu hari dihidangkan kepadanya makanan untuk berbuka, karena waktu itu ia sedang shaum, pandangannya jatuh pada hidangan tersebut, timbul selera makannya, tetapi iapun menangis sambil mengeluh: “Mushab bin Umair telah gugur sebagai syahid, ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku, ia hanya mendapat kafan sehelai burdah; jika ditutupkan ke kepalanya maka kelihatan kakinya, dan jika ditutupkan kedua kakinya terbuka kepalanya!

Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku, ia pun gugur sebagai syahid, dan di saat akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir kalau-kalau telah didahulukan pahala kebaikan kami…!” Pada suatu peristiwa lain sebagian shahabatnya berkumpul bersamanya menghadapi jamuan di rumahnya. Tak lama sesudah makanan diletakkan di hadapan mereka, ia pun menangis; karena itu mereka bertanya: “Apa sebabnya anda menangis wahai Abu Muhammad … ?” Ujarnya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat dan tak pernah beliau berikut ahli rumahnya sampai kenyang makan roti gandum, apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan bagi kita … ?” Begitulah ia, kekayaannya yang melimpah-limpah, sedikitpun tidak membangkitkan kesombongan dan takabur dalam dirinya …. ! Sampai-sampai dikatakan orang tentang dirinya: “Seandainya seorang asing yang belum pernah mengenalnya, kebetulan melihatnya sedang duduk-duduk bersama pelayan-pelayannya, niscaya ia tak akan sanggup membedakannya dari antara mereka!” Tetapi bila orang asing itu mengenal satu sisi saja dari perjuangan Ibnu ‘Auf dan jasa-jasanya, misalnya diketahuinya bahwa di badannya terdapat dua puluh bekas luka di perang Uhud, dan bahwa salah satu dari bekas luka ini meninggalkan cacat pincang yang tidak sembuh-sembuh pada salah satu kakinya. sebagaimana pula beberapa gigi seri rontok di perang Uhud, yang menyebabkan kecadelan yang jelas pada ucapan dan pembicaraannya …. Di waktu itulah orang baru akan menyadari bahwa laki-laki yang berperawakan tinggi dengan air muka berseri dan kulit halus, pincang serta cadel, sebagai tanda jasa dari perang Uhud, itulah orang yang bernama Abdurrahman bin ‘Auf … ! Semoga Allah shubhaana wa ta’ala ridha kepadanya dan ia pun ridha kepada Allah shubhaana wa ta’ala … ! Sudah menjadi kebiasaan pada tabi’at manusia bahwa harta kekayaan mengundang kekuasaan … artinya bahwa orang-orang kaya selalu gandrung untuk memiliki pengaruh guna melindungi kekayaan mereka dan melipat gandakannya, dan untuk memuaskan nafsu, sombong, membanggakan dan mementingkan diri sendiri, yakni sifat-sifat yang biasa dibangkitkan oleh kekayaan… !Tetapi bila kita melihat Abdurrahman bin ‘Auf dengan kekayaannya yang melimpah ini, kita akan menemukan manusia ajaib yang sanggup menguasai tabi’at kemanusiaan dalam bidang ini dan melangkahinya ke puncak ketinggian yang unik. (Buletin al Balagh 27 Dzulhijjah 1426)

Artikulli paraprakBirrul Walidain
Artikulli tjetërHadits Kedua Arbain (Bag.2)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini