30 Dai Asia Tenggara Kumpul di Ciater Bandung

Untuk menguatkan Ikatan Ukhuwah diantara para Dai dan ajang sharing pengalaman Dakwah, Yayasan Nurmadinah Bandung mengumpulkan 30 Dai yang bukan saja berasal dari Indonesia,tapi juga dari negara lainnya di Asia Tenggara, yakni perwakiilan dari Malaysia, Kamboja, Thailand dan Vietnam.

Dari Wahdah Islamiyah ada Sembilan peserta yakni Ustadz Zaitun Rasmin, Ustadz Muh.Ikhwan Abd.Jalil, Ustadz Muh.Said Abd.Shamad, Ustadz Muh.Yusran Anshar, Ustadz Rahmat Abd.Rahman, Ustadz Taufan Djafri, Ustadz Muh.Yani Abd.Karim dan Ustadz Muh.Ihzan Zainuddin. Sebagian besar peserta merupakan alumni dari Universitas Islam Madinah.

Pelatihan Dai yang diketuai oleh Ustadz Ridwan Hamidi  ini diisi oleh tujuh pemateri,yakni  tiga Dosen Universitas Islam Madinah Syaikh  Dr.Ahmad Al Gunaiman, Syaikh Dr.Abu Ayyub Al ‘Awaji,dan Syaikh Dr.Sultan al Husein. Pemateri lainnya, Doktor dalam bidang Manajemen dan Pengembangan SDM Syaikh Dr.Suhail bin Muhammad Qasim, Dosen Universitas Qosim Syaikh Dr.Sholeh Al Hadzul, Dosen International Islamic University Malaysia Dr.Jamal Ahmad Badi, dan Pimpinan Ma’had al Islam Bekasi Ustadz Farid Ahmad Okbah. Selain pemberian materi, pelatihan ini juga dibagi dalam tiga kelompok diskusi. Acara Pelatihan Dai ini berlangsung selama lima hari,4-8 Juli 2011, hari terakhir diisi dengan rihlah di Objek Wisata Ciater.

Syaikh Suhail Isi Pengajian Di Masjid Darut Tauhid dan MQ TV
Memanfaatkan kedatangan para Syaikh di Bandung, Pengurus Pesantren Darut Tauhid AA Gym menerima kunjungan Syaikh Dr.Suhail. Dalam Kunjungan tersebut Syaikh mengisi Pengajian Maghrib-Isya di Masjid Pesantren dan Ba’da Isya mengisi di MQ TV (Live).

Trainer kota Madinah ini dalam pengajiannya berbicara tentang singkatnya waktu hidup di dunia. Syaikh mengutarakan ayat-ayat Allah Subhaanahu Wataala yang menyampaiakna kepada manusia bahwa waktu hidup didunia ini sangat singkat, seolah-olah seperti waktu pagi atau sore saja.

Tentang umur manusia, Syaikh merincinya dari umur balik 15 tahun sampai umur 60 tahun.  Sebagai contoh Waktu tidur sekitar 8 jam, menghabiskan sepertiga dari setiap hari yang kita jalani, jika sampai umur 60 tahun, waktu tidur manusia gunakan selama 15 tahun.  Ditambah lagi waktu makan dan buang air dan waktu yang lainnya, jika dikalkulasi sisa 15 tahun saja untuk capai umur 60 tahun.

Lanjut Syaikh, hal ini menggambarkan bahwa waktu yang kita miliki sangat singkat, olehnya itu waktu yang diberikan mesti diisi dengan sebaik-baiknya secara cerdas.

Syaikh mengutarakan akan pentingnya kalimat Shayadat, dan memahami syarat,konsekunsi dan rukunnya. Selain itu, banyak dalam agama kita ini amalan ringan yang timbangannya berat, seperti membaca Al Quran, Allah akan beri ganjaran pahala 10 untuk setiap huruf yang dibaca.

Pesan Syaikh di akhir pengajiannya,  agar seorang muslim dalam hidup lurus, tidak terpengaruh dari berbagai arah pintu syahwat dan syubhat. Syaikh memberikan perumpamaan hidup ini tidak seperti kijang dan himar. Kijang yang memiliki lompatan yang jauh 4-5 meter, tetapi menjadi mangsa singa yang jarak lompatannya tidak sejauh kijang, karena kijang selalu melihat ke belakang, tidak fokus ke depan. Sebaliknya seorang Muslim juga tidak seperti Himar, jalannya lurus fokus tapi lambat. “ Hidup ini mesti  fokus dan cepat,” tegasnya.   

Sedangkan di MQ TV, Syaikh membawakan materi tentang Urgensi Perencanaan. Untuk hidup sukses dunia dan akhirat diperlukan adanya perencanaan dan persiapan. “Kesuksesan tidak datang secara tiba-tiba, tapi didahului dengan kesungguhan dalam perencanaan,” ungkapnya.

Jika seseorang mempunyai persiapan maka akan mudah untuk menangkap peluang yang ada. Syaikh memberi contoh tentang keutamaan shalat malam, yang telah kita ketahui bersama. Allah turun ke langit dunia pada sepertiga akhir malam, untuk mengampuni hambanya yang beristigfar dan memberi apa yang hamba minta. Untuk mendapatkan kesempatan dan peluang tersebut, diperlukan adanya persiapan diantaranya tidur di awal malam, jaga pandangan, jaga makanan, bulatkan tekad untuk bangun malam. “Keinginan untuk mendapatkan keimanan yang mantap perlu ada perencanaan yang sungguh-sungguh,” tambahnya.

Sebagai penerjemah di Pengajian Masjid dan MQ TV adalah Ustadz Roni Abdul Fatah, Lc, Alumni LIPIA Jakarta, yang merupakan Dewan Asaatidz  di Ponpes Darut Tauhid. (*) Dokumentasi :Dok.1, Dok.2, Dok.3, Dok.4, Dok.5

 
 

Artikulli paraprakWalikota Siap Bantu Pembentukan Cabang Wahdah di Padang
Artikulli tjetërLima Kecamatan Hadiri Tarbiyah Gabungan dan Rihlah DPC Bone

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini